[anti-both]

Mendeteksi Roh

DR. SINGH: Para ilmuwan sadar bahwa untuk dapat melihat roh sangatlah sulit. Mereka mengatakan bahwa keberadaannya amat meragukan.

SRILA PRABHUPADA: Bagaimana mereka dapat melihatnya? Roh itu terlalu sulit untuk dilihat. Siapa yang memiliki daya untuk melihatnya?

DR. SINGH: Namun, mereka ingin menginderanya dengan menggunakan sejumlah peralatan.

SRILA PRABHUPADA: Jika anda menyuntik seseorang dengan seperseratus dari 1 grain (0,0648 gram) racun yang sangat berbisa, maka dia akan segera mati. Tidak ada seorangpun yang dapat melihat racun tersebut atau bagaimana racun itu beraksi, tetapi meskipun demikian racun itu beraksi. Jadi mengapa para ilmuwan itu tidak melihat  sang roh melalui tindakan (kekuatan) roh tersebut? Dalam hal-hal semacam itu kita harus melihat melalui efek yang ada. Kitab-kitab Veda mengatakan bahwa disebabkan oleh partikel kecil yang disebut roh tersebut, maka seluruh badan bekerja dengan baik. Jika saya mencubit diri sendiri, maka saya langsung dapat merasakannya karena saya sadar di seluruh kulit saya. Namun begitu sang roh keluar dari badan saya, yang dalam hal ini ketika badan saya mati, maka Anda dapat mengambil kulit yang sama dan mengiris serta memotong-motong kulit tersebut, dan tak ada seorangpun yang akan menentang. Mengapa hal yang sederhana ini amat sulit dimengerti? Bukankah ini mendeteksi sang roh?

DR. SINGH: Kita mungkin mendeteksi sang roh dengan cara demikian, namun bagaimana tentang Tuhan?

SRILA PRABHUPADA: Pertama-tama, marilah kita mengerti roh dulu. Roh itu adalah sebuah contoh (sampel) Tuhan. Jika Anda dapat mengerti contoh itu, maka Anda dapat mengerti keseluruhannya.

Sains Modern: Membantu atau Membahayakan?

DR. SINGH: Para ilmuwan sedang dalam proses berupaya menciptakan kehidupan.

SRILA PRABHUPADA: “Proses”! “Sedang berupaya”! Itu yang kita tolak mentah-mentah; itu yang tidak kita terima. Seorang pengemis berkata, “Aku sedang berusaha untuk menjadi seorang jutawan.” Kita berkata, “Setelah kamu menjadi jutawan, maka bicaralah. Sekarang kamu seorang pengemis miskin; itu saja.” Para ilmuwan mengatakan bahwa mereka sedang berupaya, namun seandainya saya bertanya kepada Anda, “Apa jabatan Anda?” Akankah Anda berkata, “Saya sedang berusaha untuk menjadi ….?” Apakah Anda sekarang? Itulah pertanyaannya. “Kita sedang berusaha” bukanlah sebuah jawaban yang tepat, apalagi membicarakan sebuah dalil ilmiah.

DR. SINGH: Baiklah, walaupun sejauh ini mereka belum mampu menciptakan kehidupan, mereka mengatakan bahwa mereka segera akan mampu melakukan itu.

SRILA PRABHUPADA: Orang kurang ajar manapun bisa berkata demikian. Jika Anda berkata, “Di masa yang akan datang, saya akan mampu melakukan sesuatu yang luar biasa,” mengapa saya mesti percaya kepada Anda?

DR. SINGH: Baiklah, para ilmuwan itu mengatakan bahwa mereka telah berbuat banyak di masa lampau dan mereka akan mencapai lebih banyak lagi di masa yang akan datang.

SRILA PRABHUPADA: Di masa lampau yang ada adalah kematian, dan orang-orang sedang menunggu kematian sekarang. Jadi apakah yang telah ilmuwan itu lakukan?

DR. SINGH: Membantu mereka.

SRILA PRABHUPADA: Para ilmuwan itu telah membantu mengurangi masa hidup! Sebelumnya manusia hidup selama seratus tahun; sekarang mereka jarang hidup selama lebih dari enampuluh atau tujuhpuluh tahun. Dan para ilmuwan telah menemukan energi nuklir; sekarang mereka dapat membunuh berjuta-juta manusia. Jadi, mereka telah membantu hanya dalam menunggu kematian. Mereka tidak membantu dalam hidup manusia, dan meskipun demikian mereka masih berani menyatakan bahwa mereka akan menciptakan kehidupan.

DR. SINGH: Namun sekarang kita mempunyai pesawat terbang dan—

SRILA PRABHUPADA: Ilmuwan itu tidak mampu menghentikan kematian, mereka tidak dapat menghentikan kelahiran, mereka tidak dapat menghentikan penyakit, dan mereka tidak dapat menghentikan usia tua. Jadi, apa yang telah mereka lakukan? Dahulu orang-orang biasa menjadi tua, dan pada waktu sekarang ini mereka sedang menjadi tua. Dahulu orang-orang bisa menjadi sakit, dan sekarang mereka sedang menjadi sakit. Sekarang ada lebih banyak obat—dan lebih banyak penyakit. Jadi, apakah yang telah mereka capai? Para ilmuwan tidak membantu memperbaiki ketenteraman dunia. Kita akan menantang semua ilmuwan kurang ajar itu yang mengatakan bahwa kehidupan timbul dari zat. Fakta yang sebenarnya adalah zat itu berasal dari kehidupan.

Ilusi Kemajuan

 

SRILA PRABHUPADA: Berapa lamakah sains dapat mengelabui orang? Seratus tahun, duaratus tahun? Para ilmuwan tidak bisa mengelabui mereka selamanya.

DR. SINGH: Manipulasi telah berlangsung sejak dahulu kala, jadi mungkin mereka berpikir bahwa mereka dapat melanjutkan manipulasi itu selamanya.

SRILA PRABHUPADA: Bukan sejak dahulu kala! Sains mengelabui orang-orang baru sejak dua atau tiga ratus tahun lalu saja—bukan sebelum masa itu.

DR. SINGH: Wah, sungguhkah begitu?

SRILA PRABHUPADA: Ya, selama duaratus tahun terakhir mereka mengajarkan bahwa kehidupan berasal dari zat —bukan sejak ribuan tahun. Dan penipuan itu akan diakhiri dalam waktu limapuluh tahun lagi.

DR. SINGH: Ya, kini ada sebuah gerakan yang dijuluki gerakan anti-intelektual. Orang-orang sedang memberontak melawan sains dan kemajuan modern.

SRILA PRABHUPADA: Dan sains apa? Itu bukanlah sains! Itu kebodohan. Kebodohan sedang dipandang sebagai sains, dan bukan agama sedang dipandang sebagai agama. Namun penipuan ini tidak dapat berlangsung lama, karena beberapa orang sedang menjadi cerdas.

DR. SINGH: Dalam Newsweek, salah satu majalah terbesar di Amerika Serikat, ada sebuah artikel tentang degradasi dalam agama Kristen. Artikel tersebut menyertakan sebuah kartun yang menggambarkan iblis sedang menyebabkan gempa bumi. Akhir-akhir ini ada satu gempa bumi yang sangat dahsyat di Amerika Selatan yang menewaskan ribuan orang. Kartun tersebut menghubung-hubungkan hal-hal semacam itu dengan iblis, dan di sebelah kanan digambarkan Richard Nixon menampilkan dirinya sebagai seorang pengikut Kristus namun sedang mengebomi Asia Tenggara. Di dalam kartun ini, sang iblis menoleh kepada Richard Nixon dan berkata, “Nerakalah yang menyamai orang-orang Kristen.”

SRILA PRABHUPADA: Ya, orang-orang akan mengkritik demikian. Orang-orang sedang menjadi maju. Berapa lama mereka bisa ditipu oleh yang namanya sains dan yang dinamakan agama itu? Jika Mr. Nixon mencintai rakyatnya, mengapa dia tidak mencintai sapi-sapi di negaranya? Mereka juga dilahirkan di daratan yang sama, dan mereka memiliki hak asasi yang sama. Mengapa mereka dibunuh? “Janganlah Engkau membunuh.” Namun binatang-binatang itu sedang dibantai. Hal itu merupakan ketidaksempurnaan. Krishna menyayangi dengan memeluk baik sapi-sapi maupun Radharani. Itulahkesempurnaan. Krishna bahkan berbicara dengan burung. Pada suatu hari di tepi Sungai Yamuna, Krishna sedang berbicara dengan seekor burung, karena Krishna berkomunikasi bahkan dalam banyak bahasa burung. Seorang wanita tua melihat hal ini dan mulai merasa takjub: “Wah, Krishna sedang berbicara dengan seekor burung!”

DR. SINGH: Yang Anda maksud Krishna sedang benar-benar berbicara seperti cara burung berbicara?

SRILA PRABHUPADA: Ya. Salah satu sifat Krishna yang diuraikan di dalam kitab-kitab Veda adalah bahwa Krishna bisa berbicara dalam bahasa apa pun. Krishna adalah ayah dari semua entitas hidup, dan sang ayah bisa mengerti bahasa anak-anaknya.

Krishna adalah penikmat tertinggi. Sesungguhnya, kecuali untuk mereka yang sadar akan Krishna, tak seorang pun dapat menggenggam pengetahuan sejati, atau tidak pula ada seorang pun yang dapat menikmati. Orang sebenarnya sedang menderita, namun dirinya berpikir bahwa derita tersebut adalah kesenangan. Inilah yang disebut maya atau ilusi. Di Amerika, orang-orang bekerja keras siang dan malam, dan mereka be-pikir, “Aku sedang menikmati.” Ini maya. Satu roh yang terikat tidak dapat menikmati apa-apa; dia hanya menderita, tetapi dia berpikir bahwa dia sedang menikmati (senang).

Oleh karena itu, di dalam Bhagavata Purana roh terikat itu diibaratkan unta. Unta sangat senang memakan ranting-ranting berduri yang melukai lidahnya. Selagi dia makan ranting-ranting berduri itu, darah mengucur dari lidahnya dan bercampur dengan ranting-ranting berduri tersebut. Ranting-ranting tajam itu menjadi terasa sedikit enak, dan ia berpikir, “Wah, ranting-ranting ini sangat lezat.” Hal itu disebut maya. maya berarti “yang bukan.” Ma berarti “bukan,” dan ya berarti “ini.” Jadi maya berarti “bukan ini.” Itulah penjelasan mengenai maya atau ilusi. Para ilmuwan berada dalam maya lantaran mereka berpikir bahwa mereka sedang memperbaiki banyak hal dan menjadi bahagia. Namun dunia ini, beserta segala yang ada di dalamnya, lambat laun akan berakhir karena ia adalah maya ia bukanlah apa yang kita pikirkan. Seperti Bhagavata Purana menjelaskan, orang-orang materialistik sedang berpikir bahwa mereka berada dalam kejayaan, namun sebenarnya mereka sedang dipecundangi.

 Dikutip dari: Life come from life

%d bloggers like this: