[anti-both]

Sisya: Manfaat apa yang bisa didapat oleh seseorang dengan meyakini bekerjanya hukum karma-phala dan punarbhava dalam kehidupan ini?

Guru: Manfaat utama yang bisa di dapat adalah seseorang selalu terdorong untuk melakukan subha-karma, kegiatan bajik. Manfaat berikutnya adalah seseorang akan mengerti dengan benar bahwa Tuhan maha adil dan maha bijaksana dalam mengatur kehidupan semua mahluk hidup di dunia fana. Sebab Tuhan memperlakukan semua mahlukNya sesuai dengan karma yang dilakukannya. Seseorang juga akan menjadi sangat toleran kepada semua orang karena dia sadar bahwa setiap orang berada pada tingkat evolusi spiritual yang berbeda-beda yang menyebabkan mereka memiliki cara berpikir, pola hidup dan kesenangan yang berbeda-beda. Manfaat berikutnya adalah seseorang hidup tenang dan damai, tidak digoyahkan oleh gelombang suka-duka kehidupan material dunia fana karena dia sadar dirinya sebagai jiva rohani-abadi sesungguhnya tidak punya kaitan apapun dengan badan jasmani yang berkegiatan sesuai dengan dorongan sifat-sifat alam material tri guna yang menyelimutinya. Dan seseorang juga akan menjadi mantap dalam menempuh jalan spiritual keinsyafan diri untuk kembali kepada Tuhan.

Sisya: Meskipun pengetahuan hukum karma dan punarbhava sangat logis dan rasional, tetapi mengapa tidak semua orang cerdas yang disebut kaum intelektual mau menerima dan menjadikannya pedoman hidup?

Guru: Menurut Veda, orang intelektual disebut sebagai brahmana, yakni orang yang insyaf akan diri, mengerti dan sadar betul bahwa dirinya sejati adalah jiva spiritual kekal-abadi, bukan badan jasmani yang material dan sementara ini. Oleh karena insyaf diri seperti itu, maka sang brahmana selalu berkegiatan pada tingkat spiritual dengan berpegang teguh pada doktrin karma dan reinkarnasi dalam kehidupannya. Tetapi orang-orang cerdas atau kaum intelektual pada jaman sekarang dengan beraneka macam gelar akademik bukanlah manusia-manusia insyaf diri, melainkan mereka adalah orang-orang yang buta dan tuli rohani. Pikiran mereka penuh dengan bermacam-macam rencana hidup bahagia di alam fana dengan memanfaatkan pengetahuan material (maya-tattva) sebagai pedoman hidupnya. Bagi mereka, karma dan punarbhava adalah bagian dari isi dongeng-dongeng kuno belaka. Sehingga mereka tidak peduli apakah dirinya kelak lahir sebagai babi, anjing, kucing, tikus atau keledai.

Sisya: Dapatkah anda menjelaskan mengenai jenis badan yang diperoleh berdasarkan pada karma setelah berpunarbhava ini secara logis Guru?

Guru: Hanya orang yang memiliki banyak uang yang bisa tinggal di kamar hotel mewah. Orang yang memiliki sedikit uang harus puas tinggal di kamar hotel sederhana. Sedangkan orang yang sama sekali tidak punya uang terpaksa menginap di koridor pertokoan atau tempat umum. Begitu pula, hanya orang yang memiliki banyak banyak pahala kegiatan bajik yang bisa tinggal di Svarga-loka dengan memperoleh badan jasmani dewata. Orang yang memiliki sedikit pahala perbuatan bajik harus puas dengan lahir lagi sebagai manusia di Bhu-loka atau Bumi ini. Sedangkan orang yang tidak memiliki pahala baik apapun, harus merosot dengan lahir sebagai hewan di masyarakat binatang. Jadi macam karma menentukan jenis badan jasmani yang diperoleh. Dan jenis badan jasmani menentukan tingkat kesenangan yang dinikmati dan kesusahan yang dirasakan oleh sang mahluk hidup.

Sisya: Bagaimana kalau seseorang bercita-cita mencapai Svarga-loka denganbanyak melakukan kegiatan saleh selama hidupnya di Bumi?

Guru: Itu adalah cita-cita orang-orang yang belum begitu cerdas. Veda berulang kali menjelaskan bahwa Svarga-loka adalah salah satu dari 14 susunan planet di alam semesta material ini. Tinggal di Sorga memang menyenangkan, tetapi di sana kita akan tetap berurusan dengan masalah material yang sama, yaitu: kelahiran (janma), usia tua (jara), penyakit (vyadhi) dan kematian (mrtyu). Bercita-cita mencapai alam sorgawi adalah sama saja dengan lebih nyaman dalam lingkungan penjara. Tetapi tinggal di dalam sel yang lebih baik  tidak mengubah status kita sebagai seorang napi yang tidak punya kebebasan untuk tinggal di rumah sendiri dan hidup bahagia bersama keluarga. Begitu pula, dengan menjadi penduduk Svarga-loka, status kita tetap tidak berubah sebagai jiva-bhuta, mahluk hidup terikat yang berjuang keras untuk hidup di alam material. Kita tetap terjerat dalam lingkaran samsara kehidupan material dunia fana.

Sisya: Lalu bagaimana jaran karma-phala dan punarbhava ini dapat menjelaskan mengenai penduduk dunia yang terus bertambah ini Guru?

Guru: Menurut Veda, jumlah mahluk humanoid, binatang, burung, serangga, tanaman, adan akuatik setiap loka atau planet secara keseluruhan selalu tetap, tetapi proporsinya yang berubah-ubah sesuai dengan kondisi dan daya dukung loka tersebut. Sejak manusia menyebut diri modern dan paling beradab, alam lingkungan semakin rusak. Hutan-hutan semakin gundul dan daerah kering semakin meluas di permukaan Bumi. Akibatnya jumlah hewan, burung, serangga, pohon dan mahluk akuatik menjadi berkurang. Maka sesuai dengan pengaturan para deva pengendali urusan material yang bekerja di bawah pengawasan Tuhan, para jiva yang sebelumnya menghuni badan jasmani hewan berpurnarbhava atau lahir sebagai manusia dalam masa Kali Yuga ini. Sementara itu, Veda mengatakan banyak deva bertabiat asurik jatuh dari susunan planet-planet bagian atas alam semesta material dan lahir ke Bumi pada jaman Kali sekarang untuk merealisasikan keinginannya menjadi penguasa dunia. Karena itulah penduduk Bumi kelihatan terus bertambah. Oleh karena pemimpin masyarakat saat ini kebanyakan berperingai tidak bajik alias berwatak asurik, maka manusia tidak ada hentinya didera kesengsaraan oleh berbagai macam bencana alam, perbuatan amoral, kejahatan, perang, teror, bom bunuh diri, kemunafikan, korupsi dan prilaku dusta lainnya.

Sisya: Tetapi menurut ajaran non-Vedic, jumlah manusia terus bertambah karena memang kehendak Tuhan. Bagaimana menurut anda Guru?

Guru: Memang benar bahwasanya segala sesuatu terjadi karena kehendak Tuhan. Tetapi kalau kita terima pernyataan dogmatis ini sebagai landasan berpikir tanpa mempedulikan aturan hidup universal, yaitu hukum karma dan punarbhava yang telah ditetapkan oleh Tuhan, maka kita akan terbentur lagi pada pertanyaan klasik, “Kenapa Tuhan mengatur sehingga sebagian jiva harus terlahir menderita di daerah guru Ethiopia sementara sejumlah jiva yang lainnya hidup bergelimbang harta dan kebahagiaan di California?”

Sisya: Anda telah menjelaskan bahwa orang bisa mencapai alam surgawi hanya dengan melakukan banyak perbuatan baik selama masa hidup di bumi. Lalu bagaimana dengan usaha para sarjana duniawi mencapai planet-planet yang lain dengan teknologi pesawat antariksa?

Guru: Sesungguhnya setiap orang yang hidup di dunia fana atau alam material ini, diikat oleh begitu banyak aturan. Anda tidak bisa bebas bepergian ke negara yang lain jika anda tidak memiliki paspor atau visa, ijin tinggal, uang cukup dan sebagainya. Jadi jika anda memaksakan diri dengan menyelundup ke sana, maka anda akan seketika ditangkap dan dipenjara. Maka anda hanya akan menderita belaka.

Begitu pula, usaha para ilmuwan mencapai planet-planet lain dengan teknologi kasar model sekarang berupa pesawat antariksa, sesungguhnya melanggar aturan halus pemerintahan universal yang dijalankan oleh para dewa pengendali urusan material dunia fana yang bekerja di bawah pengawasan Tuhan. Karena melanggar aturan, maka meski begitu jauh usaha mereka tetapi tetap berakhir dengan kegagalan. Lagi pula, usaha besar ini hanya menyengsarakan rakyat belaka. Sebab sudah demikian banyak awak pesawat mati konyol menjadi korban kecelakaan. Sedangkan pajak yang dibayar oleh rakyat, bukan dibelanjakan untuk program kesejahteraan masyarakat, tetapi dibelanjakan untuk program yang belum pasti manfaatnya.

Para ilmuwan berkata bahwa manusia telah berhasil mendarat di Bulan. Lalu manfaat apa yang telah diperoleh dari keberhasilan ini? Mereka menunjukkan keberhasilan programnya hanya dengan menunjukkan beberapa butir batuan bulan seraya berkata bahwa di Bulan tidak ada kehidupan. Mereka tidak peduli dengan penjelasan Veda bahwa planet Bulan pun berpenduduk seperti di Bumi tetapi dengan dimensi kehidupan yang berbeda dengan yang ada di Bumi. Penduduk Bumi sekarang yang menyebut diri sebagai Chandra Vamsa adalah keturunan Chandra, dewa Bulan. Seandainya dengan teknologi halus tertentu pada masa yang akan datang penduduk Bumi bisa berkunjung ke planet lain seperti yang dilakukan oleh oleh manusia jaman Kali dalam masa Catur Yuga yang telah lewat, program menguasai planet lain pun tidak akan sungguh-sungguh bermanfaat buat kehidupan manusia itu sendiri. Di sana, di planet asing tersebut manusia Bumi akan berbuat persis seperti yang diperbuat oleh orang-orang Eropa yang datang dan menguasai Amerika di masa lampau. Mereka akan membunuh dan mengusir penduduk asli, menjarah harta kekayaannya dan ladang milik nenek moyangnya. Dan selanjutnya mereka berkembang-biak sementara tetap terjerat dalam problem material yang sama yaitu: kelahiran (janma), penyakit (vyadhi), usia tua (jara) dan Kematian (mrtyu).

Sisya: Diantara begitu banyak perbuatan buruk (asubha-karma), perbuatan buruk apa yang dianggap paling jahat oleh Veda dan menyebabkan reaksi paling menyengsarakan?

Guru: Himsa karma, perbuatan menyakiti makhluk lain. Karena itu, Veda menyatakan, “Ahimsaya paro Dharma, prinsip dharma (agama) tertinggi adalah ahimsa. Tidak menyakiti atau membunuh makhluk lain”. Atau dengan kata lain, prinsip dharma tertinggi adalah daya, kasih sayang kepada semua makhluk. Oleh karena akibat dari himsa-karma ini begitu berat menyengsarakan, maka Veda menetapkan bahwa seorang pembunuh hendaknya dihukum mati agar tidak terlalu menderita di neraka setelah kematiannya kelak. Dan ajaran kerohanian yang tidak mengajarkan cinta kasih haruslah segera ditinggalkan. Tetapi orang-orang munafik berwatak asurik jaman sekarang memutarbalikkan petunjuk kitab suci ini dengan berkata bahwa menyakiti dan membunuh dan makan hewan bukan perbuatan berdosa. Maka himsa-karma ini meluas dan menyebar terus ke segala penjuru dunia. Akibatnya, perang, teror, bom bunuh diri, penganiayaan, penculikan, penyiksaan dan bermacam-macam tindakan kekerasan tiada hentinya mendera dan menyerang masyarakat manusia.

Sisya: Jadi menurut doktrin karma-phala, beraneka-macam malapetaka yang kini begitu sering menimpa penduduk bumi adalah karena himsa karma terhadap binatang dan makhluk rendah lainnya begitu meluas di masyarakat manusia modern. Bagaimana hal ini harus dimengerti?

Guru: Pertama, membunuh makhluk lain yang tidak pernah melakukan kesalahan apapun terhadap si pembunuh adalah dosa. “jangan berbuat sesuatu terhadap makhluk lain yang engkau sendiri protes jikalau perbuatan itu dilakukan terhadap dirimu”, demikian orang-orang bijaksana berkata. Anda tidak ingin disakiti, apa lagi dibunuh. Tetapi mengapa anda melakukannya? Mengapa anda membunuh binatang yang tidak pernah berbuat jahat kepada diri anda? Bilamana anda mau jujur, maka anda akan menjawab begini; “Karena saya sudah tidak memiliki rasa belas kasihan”.

Kedua, Tuhan telah menetapkan jenis makanan alamiah tertentu bagi setiap makhluk hidup. Begitulah monyet hidup dengan buah-buahan. Harimau hidup dengan memakan daging binatang lain. Sapi hidup dengan memakan rerumputan. Dan manusia sesuai dengan struktur fisiologis jasmaninya harus hidup dengan makan biji-bijian, umbi-umbian dan berbagai macam sayuran. Memaksakan diri memakan daging dan menghindari makan sayur akan membuat badan manusia gampang terkena berbagai jenis penyakit. Semua makhluk hidup tunduk pada aturan alam yang dibuat oleh Tuhan. Maka sebagai makhluk yang paling tinggi dan paling beradab, secara moral manusia wajib melindungi binatang dengan menuruti aturan alam tersebut. Karena itu, jikalau manusia melanggar atruan ini dengan membunuh dan memakan binatang sementara biji-bijian dan buah-buahan berlimpah, berarti mereka sengaja berbuat dosa.

Ketiga, dengan membunuh makhluk lain, maka prinsip dharma yaitu kasih sayang yang harus dijunjung tinggi oleh setiap manusia beradab, menjadi diabaikan. Dengan daya lenyap, maka prinsip-prinsip dharma lainnya seperti Satya (kejujuran), tapasam (hidup sederhana) dan saucam (kesucian diri) dengan sendirinya juga lenyap dari dalam hati. Oleh karena keempat prinsip dharma lenyap, maka sifat-sifat kedewataan pun lenyap dari dalam hati. Kemudia hati dipenuhi dengan prinsip-prinsip Widharma yang menyebabkan manusia terbenam dalam kegiatan-kegiatan berdosa yaitu: judi, pelacuran, tindak kekerasan dan mabuk-mabukan. Keempat kegiatan adharma ini menyebabkan sifat-sifat asurik tumbuh subur menyelimuti hati manusia. Akibat selanjutnya adalah manusia cenderung melakukan beraneka macam vikarma, perbuatan amoral, dan Agra-karma, perbuatan menyengsarakan.

Demikianlah reaksi buruk beruntun yang timbul dari himsa karma dan berakibat pada terjadinya bermacam-macam malapetaka dan bencana yang tiada henti mendera dan menyengsarakan masyarakat manusia. Jikalau mala petaka dan bencana  seperti itu bukan berakan dari himsa-karma, lalu bagaimana lagi kita harus memahami jika kita tetap ingin berpegang pada kebenran bahwa Tuhan sungguh maha pengasih dan maha penyayang?

Sisya: Apa yang mendorong orang-orang melakukan himsa-karma seperti itu? Apakah karena godaan setan atau sebab lain?

Guru: Menurut Veda, jika seseorang begitu tebal diselimuti sifat alam tamas (kegelapan), maka dia akan berperangai bagaikan raksasa, pisaca, preta, Bhutan dan makhluk-mahluk jahat lain yang pada umumnya disebut setan. Dan jika seseorang begitu tebal diliputi sifat alam rajas, maka dia berperangai bagaikan asura, makhluk perusak yang umumnya disebut demon. Veda menyatakan bahwa dalam masa Kali Yuga atau jaman modern sekarang, sifat alam tamas dan rajas ini begitu tebal menyelimuti kesadaran penduduk Bumi, sehingga banyak orang menjadi berwatak keraksasaan atau kesetanan dan bertabiat demonik atau asurik. Semua watak yang tidak bajik ini menyebabkan orang-orang doyan makan daging. Inilah yang mendorong manusia melakukan himsa karma seperti yang anda maksud.

Selanjutnya, kebiasaan makan daging yang menyebabkan jutaan binatang mati tanpa daya setiap hari demi kepuasan lidah sesaat sang manusia, mengikis habis rasa belas-kasihan yang ada di libuk hati si manusia. Kegiatan rutin membunuh binatang betul-betul melumpuhkan inteleknya, sehingga manusia tidak bisa berpikir tentang kebenaran. Perbuatan bengis dan kejam terhadap sang binatang dianggap perbuatan wajar. Dan perbuatan ini dijadikan hiburan yang menarik hati. Begitulah, dengan wajah tersenyum dan ketawa orang-orang menonton sang bintang yang sedang disembelih secara kejam.

Sementara itu, sifat alam tamas yang begitu tebal menyelimuti dirinya, menyebabkan mereka berpikir bahwa membunuh binatang yang diiringi pengucapan nama-nama Tuhan, adalah ritual keagamaan paling utama untuk mensucikan hati dan pikiran. Dan dengan “kesucian hati” seperti itu, mereka lalu menyatakan bahwa kitab suci anutannya yang diwahyukan Tuhan membenarkan cara-cara kekerasan untuk menegakkan ajaran Beliau di muka Bumi ini. Bagi mereka, siapapun yang mati menegakkan ajaran Tuhan dengan cara-cara yang mereka sebut tegas dan benar seperti itu, dijamin masuk alam surgawi, tempat tinggal Tuhan.

Sungguh, apa yang mereka pikir dan lakukan memang “benar” adanya. Lihatlah para teroris yang tertangkap. Meskipun perbuatan terornya telah membunuh ribuan manusia, tetapi mereka tetap tenang dan merasa tidak berdosa di hadapan khalayak ramai, sambil setiap saat mengacungkan tinju dan meneriakkan nama-nama Tuhan. Dan malahan ada diantara mereka yang selalu tersenyum dan tertawa ketika diwawancarai. Kemudian, ketika hakim memvonis dirinya dengan hukuman mati, dengan semangat mereka mengacungkan tinju dan berteriak “Tuhan sungguh mah besar”. Mereka tidak takut mati karena yakin dirinya berbuat benar, dan jika mati dirinya masuk sorga. Disamping perang, kerusuhan bermotif sara dan berbagai macam tindakan kekerasan lain, teror bom atau bom bunuh diri adalah salah satu reaksi dari himsa karma, kegiatan rutin membunuh jutaan hewan setiap hari yang terjadi di masyarakat manusia.

Sisya: Tidakkah Veda sendiri juga mengajarkan himsa-karma yaitu yajna ritual kurban binatang?

Guru: Benar! Tetapi yajna kurban binatang yang dilaksanakan oleh para brahmana ahli ritual Veda dalam masa Yuga Yuga sebelumhya, sesungguhnya jauh berbeda dengan kegiatan rutin penyemblihan jutaan binatang setiap hari untuk makanan yang dilakukan oleh orang-orang modern Kali Yuga. Kegiatan kejam dan amoral mereka untuk memuaskan lidah sesaat dan mengenyangkan perut dengan membunuh dan makan bangkai binatang yang tidak bersalah tentu saja merupakan kegiatan berdosa yang menimbulkan akibat buruk sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya.

Pertama, yajna kurban binatang adalah sarana bagi para brahmana untuk menguji kemampuan spiritual dirinya. Jika sang brahmana mampu menghidupkan kembali sang binatang yang dikurbankan ke dalam api yajna dengan mengucapkan mantra-mantra Veda, itu berarti dia secara spiritual sudah maju. Sebenarnya praktek yajna seperti ini seperti menguji sejenis obat yang dilakukan seorang peneliti di laboratorium. Sebelum dijual ke masyarakat umum, obat tersebut terlebih dahulu diujicoba pada binatang seperti tikus atau kelinci. Setelah diyakini obat tersebut bekerja dengan baik, barulah kemudian diproduksi masal dan dilepas ke masyarakat luas.

Kedua, yajna kurban bintang adalah semacam ijin ketat bagi para manusia yang begitu tebal diliputi sifat alam tamas, sehingga mereka tidak mampu mengendalikan diri untuk tidak makan daging. Maka mereka diperbolehkan menyemblih binatang dengan syarat-syarat yang amat ketat, yaitu dengan melaksanakan yajna yang telah ditentukan oleh Veda. Maksudnya adalah agar manusia tidak bisa bebas dan sewenang-wenang menyemblih binatang. Begitulah Veda menetapkan bahwa seseorang hanya boleh menyembelih binatang di hadapan arca Devi Druga pada hari tertentu, jam tertentu dan dengan cara-cara tertentu pula. Dan setelah selesai makan daging, si pembunuh harus melakukan prayascitta, penyucian diri dengan mendermakan barang-barang tertentu kepada para brahmana, berkunjung ke tempat-tempat suci, berpuasa dan sebagainya.

Ketiga, dalam Brahma Vaivarta Purana, Krsna Kanda 115.112-113 sendiri telah melarang pelaksanaan yajna kurban binatang pada Kali Yuga ini, sebab penduduk jaman Kali mayoritas adalah sudra. Tidak ada brahmana yang berkualifikasi melaksanakan yajna kurban binatang yang amat rumit dan riskan. Akan tetapi akibat pengaruh buruk Kali Yuga, orang-orang modern jaman sekarang tidak peduli dengan aturan ketat yang harus dituruti dalam melaksanakan yajna kurban binatang.

Sifat alam rajas dan tamas yang begitu tebal menyelimuti dirinya, menyebabkan mereka yang disebut pemuka agama berpendapat bahwa dengan mengucapkan mantra-mantra pujian kepada Tuhan ketika menyemblih binatang, dosa membunuh bisa terhapuskan. Kemudian mereka berkata kepada rakyat yang buta dan tuli kitab suci bahwa membunuh binatang untuk yajna adalah membunuh dengan cinta kasih sehingga tidak berdosa. Mereka tidak sadar dan tidak mau mengerti bahwa pendapat dan perbuatannya yang tolol ini hanya menuntun rakyat menuju avidya, kegelapan spiritual. Akibatnya, himsa-karma terhadap segala jenis binatang dianggap bukan perbuatan berdosa, tetapi kegiatan rutin yang wajar di masyarakat manusia.

Sisya: Ajaran karma-phala dan punarbhawa menyatakan bahwa jenis karma yang paling disenangi dan paling sering dilakukan, menentukan kesadaran seseorang pada saat ajal, yaitu ingat pada Tuhan atau tidak. Tetapi pada jaman modern sekarang, hampir setiap orang menghabiskan seluruh waktunya setiap hari untuk bekerja mencari nafkah agar bisa bertahan hidup. Lalu bagaimana mungkin mereka bisa ingat Tuhan pada saat ajak kelak?

Guru: Dimana ada kemauan pasti ada jalan. Ini adalah ungkapan kebenaran yang telah begitu populer dan dikenal luas di masyarakat. Karena itu, jika anda punya kemauan besar dan kuat untuk menekuni jalan spiritual keinsyafan diri, maka anda pasti menemukan banyak kesempatan untuk mempelajari pustaka suci Veda, bergaul dengan para rohaniawan dan melaksanakan sadhana atau praktek spiritual yang disyaratkan. Bekerja keras sepanjang hari setiap hari agar bisa bertahan hidup adalah ciri kehidupan manusia Kali Yuga. Tetapi Tuhan Krishna yang maha bijaksana dan maha tahu, telah menyediakan program spiritual khusus yang sangat sederhana dan mudah untuk orang-orang Kali Yuga bernasib malang yaitu Hari Nama Sankirtana. Hanya dengan mengucapkan nama-nama suci Beliau: “Hare Krishna Hare Krishna Krishna Krishna Hare Hare, Hare Rama Hare Rama Rama Rama Hare Hare” secara tekun dan teratur setiap hari, setiap orang bisa membangkitkan lagi cinta kasihnya kepada Tuhan Krishna yang selama ini tidur di lubuk hatinya. Kecintaan kepada Beliau akan memungkinkan seseorang ingat kepadaNya pada saat ajal, dan dengan demikian kembali pulang ke rumah asal, alam rohani kebahagiaan abadi Vaikuntha-loka. Kita hanya perlu mengikuti program spiritual kirtanam ini saja.

Sisya: Banyak penganut ajaran Veda menyatakan bahwa jika Tuhan beravatara, turun ke dunia fana untuk menegakkan dharma, maka Beliau pun terkena hukum karma dan reinkarnasi. Apa alasan mereka menyatakan demikian?

Guru: Mereka menyatakan demikian karena terjangkiti oleh filsafat mayavada. Bagi mereka, Tuhan yang sebenarnya adalah Nirguna Brahman, Tuhan tanpa wujud, sifat dan ciri apapun. Bilamana Tuhan turun ke dunia fana, maka Ia menjadi Saguna Brahman, Tuhan dengan wujud, sifat dan ciri material. Jadi menurut mereka, semua Avatara Tuhan seperti Vamana, Nrsimha, Rama, Krishna dan lainnya berhakekat dan berkepribadian material. Karena itu, selanjutnya mereka mengatakan bahwa Tuhan terkena hukum karma dan reinkarnasi. Mereka tidak peduli pada kata-kata Tuhan Krishna, “Na mam Karmani limpati, Aku tidak terkena reaksi apapun dari kegiatan yang Aku lakukan. Na me karma-phala sprha, Aku juga tidak pernah mendambakan hasil apapun dari kegiatan yang Ku lakukan. Iti mam yo bhijanati karmabhirna sa badhyate, siapapun yang mengerti kebenaran ini tentang diriku, tidak akan terkena reaksi apapun dari kegiatan yang dilakukannya” (Bg. 4.14). Selanjutnya Beliau berkata, “Janma karma cam e diviyam, kelahiran dan kegiatan-kegiatanKu semuanya berhakekat rohani-suci. Eavm yo vetti tattvatah tyaktva deham punarjanma na iti, siapapun yang mengerti fakta ini pada saat ajal, maka dia tidak akan lahir lagi ke dunia fana, melainkan mam eti, mencapai tempat tinggalku di dunia rohani” (Bg. 4.9). Ketika berkunjung ke Dvaraka, para dewa berdoa kepada Tuhan Krishna sebagai berikut, “Nattair bhavan ajita karmabhir ajyate vai, O Tuhan Ajita (Krishna), Anda tidak pernah terkena reaksi kegiatan material apapun” (Bhag. 11.6.8). Masih banyak lagi seloka-sloka Veda yang menyatakan bahwa Tuhan tidak terkena rekasi apapun dari kegiatan-kegiatan yang Beliau lakukan untuk menegakkan dharma di dunia fana. Sebab, beliau senantiasa berkedudukan spiritual.

Sisya: Anda telah menjelskan bahwa selama seseorang memiliki hutang karma baik ataupun buruk, seseorang pasti mengalami punarbhava, lahir lagi ke dunia fana dengan badan jasmani tertentu sesuai dengan hutang karmanya itu. Karena itu, Veda mengajarkan agar manusia membebaskan diri dari rekasi perbuatan baik maupun buruk. Lalu, dapatkah dikatakan bahwa Veda mengajarkan manusia untuk tidak berbuat baik ataupun buruk?

Guru:Tentu saja tidak. Masalahnya adalah setiap pekerjaan atau profesi di dunia ini tidak ada yang mutlak seratus persen baik. Setiap pekerjaan ada saja segi buruknya. Hal ini saya telah jelaskan sebelumnya. Karena itu, mengajarkan orang untuk tidak berbuat baik ataupun buruk adalah tindakan praktis yakni tidak mungkin bisa dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh sebab itu, Veda mengajarkan agar manusia membebaskan dari dari reaksi perbuatan baik atau buruk dengan melaksanakan pelayanan Bhakti kepada Tuhan Sri Krishna.

Sisya: Pikiran adalah salah satu unsur halus makhluk hidup. Pikiran merekam segala macam kegiatan yang dilakukan. Bagaimanakah sesungguhnya pikiran ini dan cara kerjanya?

Guru: Keberadaan pikiran, kecerdasan dan keakuan palsu yang membentuk badan halus makhluk hidup,  hanya bisa diketahui dari pengetahuan spiritual Veda. Khusus mengenai pikiran,  orang-orang sering secara keliru menyamakan pikiran dengan otak yang terlihat tersusun secara amat rumit didalam pikiran setiap orang, pikiran tidak sama dengan otak, sebab ketika seseorang mati otak yang merupakan bagian dari badan jasmani kasar membusuk dan hancur tetapi pikiran membawa sang jiwa berpindah kebadan jasmani baru tertentu sesuai dengan karmanya. Pikiran dapat diibaratkan sebagai computer dengan hardisk yang mampu menyimpan bermacam-macam informasi. Veda menyatakan bahwa data tentang karma yang bisa direkam dalam pikiran seseorang melebihi jumlah rumput yang tumbuh diseluruh muka bumi. Dengan kecepatan kerja pikiran sun gguh tidak bisa dibayangkan, sehingga dikatakan, “secepat pikiran”. Jadi pikiran adalah ibarat computer alam yang jutaan lebih canggih daripada computer digital buatan manusia.

Oleh Ngurah Heka Wikana (Dengan sedikit perubahan)

%d bloggers like this: