Collins English Dictionary mendefinisikan penjajahan atau kolonialisme sebagai kebijakan dan praktek kekuatan dalam memperluas kontrol atas masyarakat lemah atau daerah. Praktek kolonialisme pada umumnya dilakukan dengan kekuatan militer dan politik. Namun dewasa ini terjadi pergeseran definisi kolonialisme dalam artian yang lebih luas seiring dengan tren perkembangan dunia yang semakin asimetris.

Kolonialisme di era modern tidak selalu dilakukan dengan menggunakan kekuatan senjata secara fisik, namun dapat dilakukan secara non fisik. Penjajahan ekonomi adalah salah satu bentuk kolonialisme modern yang paling mudah diamati. Penjajahan ekonomi dapat dilakukan dengan berbagai cara sehingga membuat suatu bangsa menjadi sangat ketergantungan. Ketergantungan suatu bangsa terhadap produk asing atau bahkan pinjaman asing dapat dikatakan sebagai indikasi bangsa tersebut sedang masuk lingkaran penjajahan ekonomi. Penjajahan ekonomi tidak akan mengarahkan masyarakat suatu bangsa untuk menjadi budak secara fisik, tetapi menjadikan mereka sebagai budak pasar.

Penjajahan non fisik yang sebenarnya tidak dapat dikategorikan sebagai kolonialisme modern karena sudah berlangsung sejak sangat lama adalah penjajahan agama. Kenapa agama dapat dikategorikan sebagai bentuk kolonialisme? Karena beberapa bentuk agama dapat menanamkan paradigma berfikir sehingga dapat mempengaruhi alam bawah sadar seseorang dengan menempatkan bangsa sumber agama tersebut lebih superior dari pada bangsanya sendiri. Kondisi ini pada akhirnya juga merembet terhadap masalah budaya. Agama dan budaya kadang kala tidak bisa dipisahkan karena agama membawa bentuk budayanya sendiri. Invasi suatu agama pada akhirnya juga mengakibatkan invasi budaya. Agama invasif dapat menjadi parasit yang menghancurkan budaya-budaya yang menjadi media penyebarannya.

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah Indonesia sudah benar-benar merdeka? Secara fisik Indonesia memang sudah merdeka pada tanggal 17 Agustus 1945 silam, namun dari sisi lain Indonesia masih terjajah. Indonesia terjajah secara ekonomi karena sukses dijadikan kreditur dan pasar barang dan jasa impor. Dan yang paling parah, Indonesia sudah dikuasi oleh agama dan budaya asing yang keberadaannya sudah membuat budaya aslinya terancam punah.

Pernyataan menarik mengenai penjajahan agama di Indonesia disampaikan oleh seorang penganut agama Sunda Wiwitan, Ira Indrawardana yang menggutat pemerintah dengan mengatakan; “agama impor diakui pemerintah, kenapa agama leluhur tidak?” (Kompas, 15 November 2014). Ira hanyalah wakil dari 1 agama asli Indonesia yang mencoba untuk bangkit dari intimidasi bangsanya sendiri. Padahal di Indonesia pada dasarnya terdapat lebih dari 200 agama asli Indonesia yang lebih suka “dilabeli” aliran kepercayaan oleh pemerintah. Sayangnya dari sekian banyak agama leluhur yang awalnya tumbuh subur dengan tentram dan damai pada akhirnya harus menghadapi kepunahan akibat ulah para penguasa kuwalat bangsa ini yang mentalnya sudah terlanjur menjadi inlander oleh agama impornya. Sejak runtuhnya pemerintahan Soekarno, semakin banyak usaha-usaha politik yang dilancarkan dalam bentuk peraturan, kebijakan dan penyalahan wewenang yang pada akhirnya hanya menyuburkan agama-agama impor dan membunuh agama asli. Politik agama di KTP adalah salah satunya. Entah apa yang ada di dalam benak para penguasa inlender kita sehingga mereka secara sukarela membela agama dan budaya lain dan dengan senang hati ingin menghapus budaya dan agama leluhurnya.

Saat ini Indonesia sudah mengalami krisis identitas karena kesuksesan mengadopsi agama dan budaya impor. Krisis identitas pada akhirnya menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang tidak berbudaya dan tidak memiliki jati diri. Ketiadaan jati diri sama artinya dengan tidak punya pondasi dan pada akhirnya sangat rapuh. Jarang anak bangsa menyadari bahwa kita sudah dibuat rabuh dalam berbagai cara. Pensekenarioan sejarah yang menyatakan bahwa bangsa ini merupakan keturunan deuteromelayu yang berasal dari Guangdong China, Nusantara sebagai tanah kosong dimana semua masyarakatkanya pendatang, cerita-cerita bahwa semua agama dan budaya nusantara berasal dari luar dan sejenisnya adalah upaya terselubuh yang dikemas dalam bentuk sejarah yang belum tentu benar untuk menjatuhkan pondasi anak bangsa.

Saat ini mungkin efek dari penjajahan budaya dan agama belum terlalu terasa. Namun bila tiba saatnya nanti, maka bersiaplah, bangsa ini akan terpecahbelah dan akhirnya runtuh meski tanpa harus diserang secara fisik. Agama adalah ideologi, budaya adalah pengejawantahan ideologi dan karena alasan itulah setiap bangsa memiliki ideologi yang harus dipegang kuat-kuat jika masih ingin tetap eksis. Ideologi Indonesia memang Pancasila, tetapi di balik pancasila ada agama dan budaya leluhur yang membangunnya. Karena itu jika ingin bangsa ini tetap eksis sampai runtuhnya bumi ini, maka mari kita ikut memperjuangkan agar agama-agama dan budaya-budaya asli Indonesia tetap eksis di bumi nusantara tercinta. Jikalaupun kita tidak mampu membangunnya, maka setidaknya jangan ikut menghancurkannya.

Merdeka…….

%d bloggers like this: