Jika anda perhatikan dalam setiap artikel yang saya tulis dalam website ini, hampir sebagian besar selalu mencantumkan sloka-sloka dari Bhagavad Gita. Apa keistimewaan Bhagavad Gita sehingga sangat sering dikutip dibandingkan Catur Veda? Bukankah Bhagavad Gita hanya bagian kecil dari Bhisma Parwa dalam Kitab Mahabharata?

Dalam Bhagavad Gita 15.15, Sri Krishna bersabda;

sarvasya cähaà hådi sanniviñöo  mattaù småtir jïänam apohanaà ca

vedaiç ca sarvair aham eva vedyo  vedänta-kåd veda-vid eva cäham

Artinya:

“Aku bersemayam di dalam hati setiap mahluk hidup. Ingatan, pengetahuan dan pelupaan berasal dari-Ku. Akulah yang harus diketahui dari segala Veda; memang Akulah yang menyusun Vedanta, dan Akulah yang mengetahui Veda”

Dari sloka ini, terdapat beberapa hal yang dapat kita simpulkan, yaitu bahwasanya Tuhan bersemayam dalam setiap mahluk hidup sebagai paramatman yang mendampingi atman dan beliaulah yang dapat menyebabkan pelupaan, ingatan dan juga pengetahuan. Kesimpulan kedua yang sangat penting yang harus kita hayati adalah bahwasanya Veda yang terdiri dari berbagai macam cabang ilmu yang sangat kompleks pada akhirnya hanya mengarah pada satu hal, yaitu mengerti akan Tuhan itu sendiri. Orang yang mempelajari Veda, hafal akan semua sloka-sloka Veda, tetapi tidak dapat insaf akan Tuhan, Tidak mengerti bahwa yang menyabdakan Bhagavad Gita itu sendiri adalah Tuhan, yaitu Sri Krishna Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa (dalam visnusahasranama/1000 nama suci Tuhan, Krishna berarti “Yang Maha Menarik”), maka sesungguhnya orang yang bersangkutan tidak dapat dikatakan sudah mengerti ajaran Veda. Hal ini juga ditekankan dalam Vedanta Sutra 1.1.4yo ‘sau sarvair vedair géyate”, semua mahluk hidup yang mempelajari Veda, padaha akhirnya harus mengerti akan Krishna.

Veda harus dipelajari dari Acarya (guru kerohanian) melalui parampara atau proses deduktip (descending process) dalam garis perguruan  (sampradaya) yang sah (Bhagavad Gita 13.8, Acaryopasanam. Bhagavad Gita 4.34, tad vidhi pranipatena … jnaninastattva darsinah. Bhagavad Gita 4.2, evam parampara praptam imam rajasayo viduh). Orang yang mempelajari Veda hanya dengan mengandalkan membaca kitab suci atau buku-buku pelajaran, tidak menjamin dapat mengerti esensi Veda dengan benar. Apalagi Veda pernah diporak-porandakan oleh penjajah Islam dan juga para kaum indologis (penyebar ajaran Kristen) pada masa penjajahan Inggris. Hal-hal dalam Veda yang disimpangkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab ini antara lain;

  1. Membuat kamus sansekerta dan menterjemahkan sloka-sloka Veda kedalam bahasa asing dengan menggunakan istilah yang tidak tepat. Seperti contoh terjemahan bahasa sansekerta “Arca Vigraha” menjadi “Idol” dalam bahasa Inggris. Sehingga hal ini menimbulkan persepsi bahwa Arca Vigraha adalah berhala. Celakanya, kamus yang menyesatkan seperti inilah yang banyak beredar di kalangan masyarakat ilmiah modern. Albert Weber dan Boehtlingk adalah tokoh indologis yang melakukan terjemahan keliru yang disengaja seperti ini.
  2. Melakukan pengutipan dan pemenggalan sloka-sloka Veda yang tidak tepat sehingga menghasilkan distorsi makna.
  3. Merubah sloka-sloka Veda sehingga sesui dengan kehendak dan tujuannya. Hal ini banyak dilakukan oleh indologis Jerman, Max Muller pada saat dia berusaha menterjemahkan Veda ke dalam bahasa Inggris dan dalam usahanya melakukan kristenisasi di India.
  4. Menambahkan sloka-sloka yang tidak seharusnya ada di dalam kitab Veda. Poin terakhir ini banyak terjadi pada kitab Bhavisya Purana yang berisi ramalan-ramalan kejadian yang akan terjadi setelah kitab Bhavisa Purana ini disusun. Sangat banyak sloka-sloka yang seharusnya tidak ada ditambahkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab kedalam kitab suci ini demi untuk melancarkan tujuannya. Sehingga jangan heran jika anda membaca Bhavisya Purana yang tidak otentik akan menemukan kejanggalan-kejanggalan dimana sloka yang satu dan yang lainnya atau bagian yang satu dengan yang lainnya sering kali bertentangan. Jika anda tidak mendapatkan sumber Bhavisya Purana ini dari guru-guru kerohanian yang dapat dipercaya, maka jangan sekali-kali mengutip sloka-sloka dalam Bhavisya Purana.

Karena itulah, para pengikut Veda seharusnya belajar Veda dari garis-garis perguruan (parampara) yang dapat dipercaya, sehingga terhindar dari pemalsuan Veda dan tindakan spekulatif orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Bhagavad Gita harus dimengerti secara muhkhya-vrtti, yaitu pemahaman secara langsung tanpa spekulasi penafsiran. Karena itu, jika pada saat anda membaca Bhagavad Gita dan mengerti bahwa yang bersabda dalam Bhagavad Gita adalah Krishna sebagai Tuhan Yang Maha Esa sendiri, bukan dengan spekualtif menyebutkan Krishna hanyalah medium yang dirasuki Tuhan untuk menyabdakan Bhagavad Gita, maka pemahaman anda akan Bhagavad Gita pastilah juga benar. Karena itulah Rsi Vyasa menulis “Bhagavan Uvaca” dan dalam Bhagavata Purana 1.3.28, disebutkan “Krsnas tu bhagavan svayam”, Krishna adalah Sri Bhagavan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa.

Bhagavad-Gita adalah ringkasan seluruh kitab Upanisad sehingga disebut dengan nama Gita-Upanisad atau Gitopanisad. Kenyataan ini dapat kita lihat dari  sloka Bhagavad Gita 2.17-25 yang menguraikan tentang sang roh atau jiva yang merupakan ringkasan kitab-kitab Upanisad.

Bhagavad Gita juga memberikan penjelasan dan kesimpulan tujuan tertinggi yang disampaikan oleh ajaran-ajaran Veda yang lain, yaitu Moksha. Hal ini dapat kita lihat dalam Bhagavad Gita 18.62 yang menyebutkan;

tam eva çaraëaà gaccha   sarva-bhävena bhärata

tat-prasädät paräà çäntià   sthänaà präpsyasi çäçvatam

Artinya:

“Wahai Putra Keluarga Bharata, serahkanlah dirimu kepada Beliau sepenuhnya, Atas karunia Beliau engkau akan mencapai kedamaian rohani dan tempat tinggal yang kekal yang palin utama.

Pernyataan sloka ini juga diperkuat oleh sloka Rig Veda 1.22.20tad viñëoù paramaà padam”. Kata “paramaà padam” disini mengacu pada arti angkasa rohani yang disebut Vaikunta, sebagai tempat tinggal rohani (Salokya Moksha).

Bhagavad Gita juga memberikan ringkasan penjelasan mengenai seluruh aspek-aspek Tuhan. Aspek Tuhan sebagai Brahman dijelaskan dalam sloka 9.4, “maya tatam idam sarvam jagat avyakta-murtina”. Dalam pada sloka 14.27,  “Brahmano  hi  pratisthaham”. Aspek Tuhan sebagai Paramatma dijelaskan pada sloka 15.15,”sarvasya ca ham hrdi sannivisthah” dan pada sloka 18.6