Dewasa ini dalam sebuah garis perguruan Hindu, muncul sebuah golongan ekslusif yang menyatakan bahwa guru yang bona fide hanyalah guru-guru yang terlahir sebagai orang Timur (dalam hal ini etnis India). Penganut paham ini umumnya tidak respek dan tidak menaruh hormat pada guru-guru Veda yang berasal dari etnis lain, terutama sekali dari orang-orang Barat. Alasan mereka sederhana, mereka beranggapan bahwa mereka yang lahir diluar tanah Bharata terlahir sebagai orang candala yang masa kecilnya dihabiskan dalam berbagai kehidupan berdosa, sedangkan mereka yang lahir di India adalah roh-roh saleh yang beruntung dan sejak kecil mereka sudah berhadapan dengan tradisi Veda, sudah terbiasa menjalankan disiplin Veda yang suci sehingga jauh lebih berkualifikasi dari pada mereka yang baru mengenal Veda pada masa remaja/dewasanya. Karena itulah golongan ini dengan sangat fanatiknya hanya mau menerima guru dari India dan tidak jarang merendahkan guru-guru Hindu yang terlahir sebagai etnis non-India.

Artikel ini saya tulis bukan untuk mengorek dan memperbesar luka yang dibuat oleh segelintir oknum. Tidak juga karena saya ada di pihak yang berseberangan dengan mereka oleh karena guru spiritual Veda saya adalah orang Barat, tetapi hanya berusaha meluruskan pandangan keliru yang muncul dari angan-angan filsafat hampa segelintir pihak-pihak tertentu yang tidak mau tahu akan apa yang sudah diuraikan Veda mengenai kualifikasi seorang guru kerohanian. Sehingga secara pribadi saya berharap, mereka yang membaca artikel ini dan berlum terkontaminasi “virus guru barat dan guru timur” bisa berpikir lebih jernih dan akhirnya mendapatkan seorang guru bukan karena terinveksi “virus tersebut”, melainkan murni karena kata hati dan karena memang guru tersebut adalah guru yang paling cocok, yang kira-kira paling mampu membimbing dirinya dalam kerohanian secara pribadi. Memilih seorang guru kerohanian tidak ubahnya bagaikan memilih seorang pasangan hidup. Kita memilih beliau karena kita merasa dekat dan merasa beliaulah yang cocok membimbing kita. Bukan karena paksaan dan propaganda tidak jelas sebagaimana isu “guru barat dan guru timur” yang gencar digemakan belakangan ini.

Pustaka Veda menguraikan bahwa untuk meniti jalan spiritual maka seseorang harus berpijak pada 3 pondasi dasar, yaitu sastra (kitab suci), sadhu (pergaulan suci) dan yang tidak kalah pentingnya adalah guru (spiritual master). Ketiga pilar ini bagaikan seseorang yang mencari suatu alamat yang belum dia ketahui berbekal kompas (analogi guru), peta (analogi sastra) dan informasi orang-orang sekitar yang tahu lokasi tersebut (analogi sadhu). Ketiadaan satu pilar ini akan membuat pencaharian kita dalam kerohanian pincang dan menyulitkan. Bhagavad Gita mengatakan bahwa ajaran kerohanian Veda hanya bisa dimengerti dengan proses sabda dari barisan guru-guru kerohanian yang dapat dipercaya (parampara); “evaḿ paramparā-prāptam imaḿ rājarṣayo viduḥ sa kāleneha mahatā yogo naṣṭaḥ parantapa”(Bg.4.2) dan “tad viddhi praṇipātena paripraśnena sevayā upadekṣyanti te jñānaḿ jñāninas tattva-darśinaḥ (Bg. 4.34). Dalam Sri Guruvastaka  sloka ke-8 juga disebutkan pentingnya seorang guru kerohanian, yaitu sebagai berikut: “yasya prasadad bhagavat-prasado yasyaprasadan na gatih kuto ‘pi dhyayan stuvams tasya yashas tri-sandhyam vande guroh shri-charanaravindam, Atas karunia dari guru kerohanian seseorang menerima berkat dari Tuhan. Tanpa karunia dari guru kerohanian, seseorang tidak akan dapat mencapai kemajuan apapun (dalam bidang kerohanian). Karena itu hamba harus selalu ingat dan memuji guru kerohanian. Paling tidak tiga kali sehari hamba harus sujud hormat kepada kaki padma guru kerohanian hamba”. Jadi, keberadaan seorang guru kerohanian mutlak diperlukan dalam mempelajari Veda.

Lalu bagaimana kita bisa memandang seorang guru kerohanian adalah guru kerohanian yang bona fide yang mampu menuntun kita menyebrangi lautan kehidupan dan kematian ini? Bisakah kita membuat dikotomi kelompok guru-guru berdasarkan kelahirannya dan masa lalunya?

Mempertanyakan kedudukan dan kredibilitas seorang guru kerohanian berdasarkan kelahiran dan masa lalunya sama halnya dengan kita mempertanyakan varna seseorang dalam sistem catur varna tetapi memandang siapa bapak dan ibunya sehingga yang akan kita temukan hanyalah penyimpangan sebagaimana munculnya sistem kasta yang menggerogoti Hindu dari dalam saat ini. Narada Muni, seorang Dewa Rsi yang paling dihormati dalam sastra-sastra Veda dan bebas berkelana keluar masuk alam rohani ternyata dulunya hanyalah anak seorang pelayan. Maha Rsi Valmiki, penulis Ramayana adalah seorang mantan perampok, pembunuh dan pemerkosa yang bernama Ratnakara tetapi akhirnya bertobat berkat wejangan suci dari Rsi Narada. Demikian juga dengan Maha Rsi Parasaramuni yang terlahir dari keluarga Sudra. Ternyata jika kita runut lebih jauh, sangat banyak orang-orang suci Hindu yang tersurat dalam kitab suci Veda muncul dari golongan-golongan rendah dan tidak jarang awalnya bertabiat asurik. Oleh karena itu, adakah alasan untuk melakukan dikotomi atas asal-usul kelahiran dan masa lalu seorang guru?

Secara singkat seorang guru kerohanian yang bona fide harusnya beliau yang sudah menyerahkan dirinya secara total kepada Tuhan, tidak lagi dibebani oleh ikatan material, tugas kewajiban kepada istri dan keluarga.  Mengenai hal ini secara intriksik dijelaskan dalam Bhagavad Gita 18.42 dan Bhagavata Purana 11.17.13 yang membahas catur varna. Disana kita bisa memetik intisari bahwa seorang guru kerohanian (yang juga seorang Brahmana) adalah beliau yang telah memiliki sifat-sifat; Kedamaian hati (samah), Terkendali diri (damah), Kesederhanaan (tapah), Kesucian (saucam), Toleransi (ksantir), Kejujuran (arjavam), Berpengetahuan rohani (jnanam), Bijaksana. (vijnanam), Agamis (astikyam), Berpuas hati (santosah), Pengampun (ksanthih), Bhakti kepada Tuhan (bhakti), dan Kasih sayang (daya). Sehingga dengan demikian, jika seseorang telah memenuhi syarat dasar ini, mengikuti sistem parampara dan mampu melakukan transfer ilmu, maka dia sangat layat diangkat sebagai seorang guru meskipun dia