Pertanyaan:

Salam kenal mas. Numpang tanya, saya bukan dari Hindu tetapi saya memilih Hindu sebagai jalan hidup saya. Permasalahannya kalau di ajaran agama saya terdahulu, pindah agama adalah tindakan murtad dan hukumnya boleh dibunuh. Kalau di Hindu sendiri seperti apa mas?

Jawaban:

Salam kenal juga mas… Jangankan memberi hukuman mati, istilah pindah agama saja sejatinya tidak ada. Lho kok bisa? Tidak ada satu sloka pun dalam Veda yang menjelaskan pindah agama (menurut pengertian istilah saat ini) kecuali dua dikotomi, yaitu Dharma dan Adharma. Dharma mengacu pada kebaikan, atau mereka yang setia mengikuti kewajibannya dan Adharma mengacu pada kejahatan atau orang yang ingkar atas kewajibannya.

Menurut Veda, sebelum Kali Yuga sekitar 6000 tahun yang lalu, tidak ada istilah dikotomi kelompok manusia dalam berbagai agama seperti yang kita alami saat ini. Manusia dikatakan mengikuti berbagai cabang-cabang Dharma sesuai dengan Guna (kecenderungan karakter) dan Karma (hasil perbuatannya). Sehingga ada yang mengikuti sistem filsafat Astika, Nastika, Sivaism, Vaisnava, Tantra dan sebagainya. Dengan kata lain, pengelompokan manusia dalam berbagai agama seperti saat ini baru muncul setelah jaman kemerosotan, Kali Yuga. Meski pun istilah asli agama berasal dari kata A = tidak, dan Gama = pergi, tidak pergi atau langgeng atau sama artinya dengan Dharma.

Jika mau jujur, pengelompokan manusia berdasarkan agama yang terjadi saat ini bukanlah nomenklatur spiritualitas. Tetapi nomenklatur yang sudah mengarah pada politik kepentingan. Sehingga tidak keliru jika Bhagavata Purana menyebutkan:

“Di Jaman Kaliyuga, para pendeta atau pemuka agama akan memiliki suara yang manis sekali dan juga memiliki pengetahuan yang sangat luas namun mereka akan memanfaatkan umatnya seperti halnya yang dilakukan oleh burung perkutut itu kepada kelinci.

Di jaman Kaliyuga, orang yang miskin akan hidup diantara orang kaya, mereka yang kaya akan memiliki kekayaan yang begitu melimpah dan meluap namuan mereka tidak akan memberikan atau membagi satu senpun kepada yang miskin. Itu sama dengan empat sumur yang tidak membagi setetes airpun untuk sumur yang sepenuhnya kering.

Di Jaman Kaliyuga, para orang tua akan mencintai anak-anak mereka begitu besar sehingga cinta mereka itu akan menghancurkan kehidupan anak-anaknya seperti halnya cinta dari induk sapi kepada anaknya yang baru lahir.

Di jaman Kaliyuga, manusia akan merosot karakternya seperti halnya jatuhnya batu besar itu dari atas gunung dan kemerosotan karakter manusia tidak bisa dihentikan oleh siapapun juga dan pada akhirnya hanya NAMA TUHAN yang akan mampu menahan manusia dari kejatuhan seperti halnya tanaman kecil itu menahan jatuhnya batu besar itu.”

Berdasarkan sensus, penganut umat Hindu di dunia ada di peringkat 3 besar. Kekristenan, Hindu dan Islam adalah 3 kelompok agama yang paling banyak dianut. Pertanyaan selanjutnya, apakah dengan ber-KTP Hindu sudah pasti menjalankan dharma? Sri Krishna dalam Bhagavad Gita 7.3; “Di antara beribu-ribu orang, mungkin ada satu yang berusaha untuk mencapai kesempurnaan, dan di antara mereka yang sudah mencapai kesempurnaan, hampir tidak ada satupun yang mengetahui tentang diri-Ku dengan sebenarnya”. Sejatinya yang benar-benar memahami ajaran dharma dan apa lagi Tuhan juga tidak banyak. Bahkan kalau jujur, kita sendiri mungkin hanya memiliki sebagian kecil dari kualitas dharma sehingga perlu banyak usaha lagi untuk benar-benar menjadi penganut dharma yang baik.

Saat ini agama hanya menjadi identitas formal bagi beberapa penduduk di negara-negara tertentu yang maaf, merupakan negara ketiga yang masih memerlukan agama sebagai komoditas politik sebagaimana disinggung dalam sloka Bhagavata Purana di atas. Pada negara-negara yang masih memainkan politik agama, perpindahan agama seseorang sangat penting dan dapat menjadi akar keributan karena seperti kita ketahui, anggaran di kementrian agama sangat tergantung dari data jumlah penganut suatu agama sebagaimana yang tercantum di KTP. Di negara maju, masalahnya bukan pada politik agama, tetapi pada masyarakat yang sudah apatis dengan agama dan juga cenderung atheis. Kedua hal ini tentu merupakan masalah dari sudut pandang spiritualitas. Permasalahan yang berujung sama, tetapi dengan motif yang berbeda.

Lalu bolehkan pindah agama dalam Hindu? Boleh, itu hak asasi setiap manusia untuk memilih kelompoknya. Tidak ada manusia lain yang bisa menghakimi tindakan pindah agama kecuali Tuhan itu sendiri. manusia tidak boleh melangkahi hukum Tuhan. Tetapi perlu saya ingatkan tidak semua agama sama seperti yang biasa diajarkan oleh guru-guru agama Hindu jaman dulu. Setiap agama sangat berbeda baik ritual, filsafat maupun etika yang mendasarinya. Setiap orang pada akhirnya akan berkumpul pada kelompoknya masing-masing sesuai dengan Guna dan Karmanya. Bagaimana pun burung gagak akan berkumpul dengan gerombolan gagak dan burung kuntul akan berkumpul dengan sekawanan kuntul. Begitulah kehidupan. Tetapi kalau anda bertanya pindah agama menurut arti agamanya yang sejati, pada dasarnya tidak ada mahluk hidup yang bisa pindah agama, karena agama adalah kewajiban atau dharma. Kewajiban mahluk hidup yang hakiki adalah sebagai pelayan dari Tuhan. Seperti halnya dharma dari api yang panas membakar, dharma dari air yang membasahi, maka demikian juga dharma sang jiva yang tidak akan pernah berubah. Yang berubah hanya identitas politiknya yang pada ujungnya berimplikasi pada karma yang dia terima di masa depan.

Translate »
%d bloggers like this: