Pertanyaan:

Mas, dalam salah satu artikel, Anda mengatakan bahwa tradisi Nyepi berasal dari peradaban Majapahit, tetapi kenapa orang Hindu Jawa malah berkiblat ke Bali?

Jawaban:

Sejujurnya perlu penjelasan panjang lebar untuk pertanyaan singkat ini. Tapi mari kita lihat klu-klunya secara singkat. Seperti yang saya katakan dalam artikel sebelah, Majapahit menggunakan penanggalan kalendar Saka sebagai kalender kenegaraannya. Majapahit memiliki tradisi tutup tahun dan buka tahun pemerintahan mengikuti siklus tahun Saka. Akhir tahun ditutup dengan parade rakyat, laporan kerajaan dan berbagai jenis festival. Awal tahun dibuka dengan segenap punggawa kerajaan pergi meditasi ke gunung.

Menghilangkan budaya yang sudah sangat mendarah daging dalam masyarakat Jawa bukanlah perkara mudah. Usaha mengaburkan jejak tersebut dilakukan pertama kali oleh Sultan Agung yang sudah menjadi Islam pada tahun 1625 M berusaha mengislamkan masyarakat Jawa dengan cara memodifikasi penanggalan Saka ke dalam penanggalan Hijriah. Agar tidak terjadi kebingungan dan pergolakan, maka pada saat itu adalah tahun baru 1547 Saka dijadikan sebagai tahun baru 1547 kalender jawa, tetapi dengan mengganti sistem penanggalan menjadi berbasis bulan sama persis dengan kalender Hijriah. Sebagai implikasi kalender Hijriah yang memiliki siklus lebih pendek dari kalender Saka, akibatnya tahun baru kalender jawa yang sudah dimodifikasi jatuh lebih cepat dari pada kalender Saka yang asli. Di sisi lain, Bali masih bertahan dengan kerajaan Hindunya dan menerapkan kalender Saka. Sehingga dengan demikian dapat dilihat tahun baru Jawa dengan tahun baru pada kalender Bali menjadi sangat berbeda.

Meski kalender sudah sukses dirubah, namun kebiasaan masyarakat Jawa tetap masih sulit dirubah. Akhir tahun mereka tetap melaksanakan tutup tahun kerajaan berupa festival yang saat ini kita kenal dengan sebutan sekaten. Pada tahun baru 1 Suro pun mereka masih melakukan “penyepian” dengan pergi ke puncak gunung melakukan laku pertapaan atau meditasi. Hal ini bahkan masih tetap bisa kita saksikan sampai saat ini bukan?

Meski secara de yure Jawa sudah dikuasai kerajaan Islam, tapi secara de fakto, masyarakat di akar rumput, dan bahkan sejumlah anggota kerajaan tetap mempertahankan falsafah dan nilai-nilai Hindu Buddha. Bukti-bukti tersebut sangat mudah untuk dapat ditemukan baik di kesultanan Yogyakarta, Solo maupun Surakarta. Sebagaimana yang saya sampikan dalam artikel yang lain, bahkan pada akhir masa penjajahan Belanda, sensus penduduk yang Belanda lakukan memperlihatkan bahwa masyarakat yang menjadi Islam saat itu tidak sampai setengahnya. Sisanya masih bertahan dengan identitas Hindu dan Buddhanya, meskipun disebutkan dengan istilah Kejawen, Sapto dharmo dan sejenisnya. Permasalahan berikutnya yang paling pelik terjadi malah pasca kemerdekaan. Umat Hindu tidak punya tempat bernaung. Kenapa? Karena pada dasarnya nama Hindu itu sendiri adalah baru. Jauh pada dahulu kala, dan bahkan pada saat runtuhnya Majapahit, nama yang dikenal bukanlah Hindu, tetapi Dharma yang memiliki banyak warna (baca aliran). Di sisi lain, sebagian politikus saat itu menginginkan Indonesia menjadi negara Islam. Namun oleh pihak nasionalis seperti Soekarno, gagasan tersebut ditolak sehingga lahirlah negara pancasila yang beragama. Masalah berikutnya adalah, Dharma tidak sama seperti agama Abrahamik yang memiliki standar kitab suci, nabi, hari suci, dan seterusnya. Sehingga tidaklah mengherankan jika agama yang bisa menjadi agama resmi pada awal kemerdekaan hanya Islam, Kristen dan Katolik. Mereka yang bernaung di bawah Dharma seperti Hindu, Buddha, dan sempalannya tidak punya payung hukum. Seperti yang juga sudah saya bahas di artikel yang lain, akhirnya atas saran dari duta besar India yang melihat falsafah yang serupa antara agama di Bali (waktu itu bernama agama Tirtha atau agama Bali) mengusulkan agar diajukan menjadi agama Hindu yang akhirnya disetujui sebagai agama Hindu Dharma Bali. Tetapi beberapa sesepuh kita melihat bahwa filsafat yang sama dengan Bali tidak hanya di Bali, tetapi menyebar di banyak wilayah Nusantara, sehingga nama yang diusulkan direduksi menjadi Hindu Dharma. Dengan diakuinya Hindu sebagai agama resmi, akhirnya penganut Dharma di nusantara, termasuk di Jawa, Sunda, Dayak dan sebagainya akhirnya berbondong-bondong masuk Hindu. Karena bangkitnya Hindu pasca kemerdekaan dimulai dari Bali, maka proses edukasi masyarakat juga bersumber dari Bali termasuk kembalinya penggunaan kalender Saka yang melahirnya Nyepi nasional saat ini. Namun perlu diakui bahwa kebangkitan Hindu Nusantara diwarnai oleh terbawanya tradisi Bali ke budaya di luar Bali yang menyebabkan sejumlah benturan dan kurang efektifnya kebangkitan Hindu. Tetapi terlepas dari positif dan negatifnya proses yang sudah berlangsung, itulah fakta yang ada di lapangan. Sekarang yang harus dilakukan adalah bagaimana membangkitkan dharma dengan akar budaya masing-masing daerah. Nusantara sejatinya kaya budaya dan dapat menjadi daya tarik wisatawan mancanegara. Tapi kalau nusantara total berkiblat ke Bali, apa lagi berkiblat ke Arab atau negara timur tengah lainnya. Maka apa yang bisa dijual untuk daya tarik? Tidak ada. Karena itu mari bangkit dengan identitas kesukuan kita masing-masing. Kita kaya karena kita berbeda adat istiadat, tetapi punya dasar yang sama, yaitu dharma.

Translate »
%d bloggers like this: