“Krsna is not Hindu — you won’t find the word Hindu anywhere in Vedic literature. This Hindu is another material designation. Krsna is for everyone — if He’s God then He’s for everyone.” Itulah salah satu petikan pernyataan dari banyak pernyataan serupa yang disampaikan Srila Prabhupada, pendiri ISKCON atau yang lebih dikenal dengan sebutan Hare Krishna di Indonesia. Pernyataan-pernyataan yang menyatakan bahwa Krishna bukan Hindu, ISKCON bukan Hindu tetapi Sanatana Dharma selalu dijadikan pembenaran bahwa gerakan Hare Krishna harus dikeluarkan dari institusi agama Hindu di Indonesia. Hal ini pula yang dijadikan pembanaran untuk mencap gerakan Hare Krishna sebagai sebuah aliran sesat. Sebelum kita mengatakan apakah Hare Krishna adalah Hindu atau bukan, mari kita coba berdiskusi beberapa poin yang sekiranya dapat membawa kita pada sisi lain dari sudut pandang kontemporer yang dijadikan “kebenaran” umum.

Di mana Veda diwahyukan?

Pemahaman umum mengatakan bahwa Veda diwahyukan di India. Pernyataan ini setidaknya didukung oleh beberapa fakta utama. Yang pertama bahwasanya penganut ajaran Veda terbesar di dunia berdomisili di India. Yang kedua banyaknya sloka-sloka Veda yang berkaitan dengan nama-nama tempat di India seperti misalnya Ganga, Kailasa, Yamuna, Saraswati, Bharatavarsa, Haridvar dan banyak lagi. Pembenaran lain juga didukung oleh kisah Ramayana dan Mahabrata yang merupakan dua kitab Itihasa utama Veda juga mengambil latar belakang sejarah di semenanjung India termasuk berbagai penjabaran bahwa Maha Rsi Vyasa, sang penulis Veda memang hidup di sekitar semenanjung India.

Berbeda dengan anggapan bahwa Veda diwahyukan di India, beberapa teori Indologis seperti Max Muller yang berkaitan dengan teori bangsa Arya dan Dravida mengatakan bahwa Veda dibawa dari Eropa oleh bangsa Arya yang merupakan ras Indo Jerman. Teori Max Muller ini didasarkan pada fakta bahwasanya terdapat dua jenis warna kulit bangsa India, yaitu dengan kulit berwarna cerah di bagian utara dan yang berwarna gelap di bagian selatan. Atas dasar ini Max Muller berasumsi bawa bangsa India berwarna gelap merupakan penduduk asli keturunan bangsa Dravida yang telah membangun kota Mohenjodara dan Harappah. Dua kota kuno yang dianggap memiliki umur lebih tua dari peninggalan kebudayaan bangsa India berkulit terang. Disamping itu fakta bahwa Bahasa yang digunakan Catur Veda (Rg, Sama, Yajur dan Atharva Veda) bukanlah Bahasa Sansekerta, melainkan Daivivak yang dianggap bahasa purba dan memiliki kemiripan dengan banyak bahasa di Eropa juga dijadikan salah satu pembenaran. Meski masih dijadikan rujukan di banyak pelajaran sejarah, faktanya berbagai penemuan arkeologi terbaru telah membantah teori bangsa Arya dan Dravida ini sehingga dengan demikian hipotesis bahwa Veda dibawa dari Eropa juga belum tentu benar.

Lalu bagaimana pernyataan dari kitab Veda sendiri? Jika menilik pada sloka-sloka Veda, kitab suci Veda bukan diwahyukan di India atau pun Eropa. Veda bahkan menyatakan pewahyuan tidak terjadi di bumi seperti salah satunya dijabarkan pada Bhagavata Purana Skanda 3 Bab 11 Sloka 35 “ūrvasyādau parārdhasya brāhmo nāma mahān abhūt kalpo yatrābhavad brahmā śabda-brahmeti yaṁ viduḥ, pada awal kehidupan Brahma yang disebut sebagai Brahma kalpa dimana Dewa Brahma muncul. Pengetahuan Veda dilahirkan bersamaan dengan kelahiran Dewa Brahma. Sebagaimana dikatakan pada bab yang sama pada sloka-sloka selanjutnya, Veda dikatakan sebagai buku panduan alam semesta yang disampaikan oleh Tuhan Yang Maha Esa (Maha Visnu) kepada makhluk hidup pertama, yaitu Dewa Brahma pada awal ciptaan. Karena itu pula Bahasa Catur Veda adalah Bahasa purba Daivivak atau dapat diartikan sebagai Bahasa para dewa. Dewa Brahma sendiri berkedudukan di Brahma loka, susunan planet paling atas di dunia material jauh di atas bumi yang dikatakan ada di lapisan pertengahan (untuk memahami konsepsi kosmologi Veda, mohon merujuk pada artikel lain yang khusus membahas mengenai hal tersebut di link ini). Pengetahuan Veda dikatakan selanjutnya diwahyukan tidak hanya kepada manusia, tetapi juga pada berbagai jenis kehidupan lain termasuk para dewa, raksasa, yaksa, dll. Pengetahuan Veda disampaikan kepada umat manusia melalui sejumlah Rsi seperti Catur Kumara, Sāṅkhyāyana Muni, Parāśara, Pulatsya dan banyak lagi yang lainnya. Dikatakan pula bahwa tradisi pengajaran Veda dilakukan dari mulut ke mulut melalui garis perguruan tidak terputus yang disebut parampara. Hanya saja akibat pengaruh Kali Yuga, jaman kemerosotan di mana umur manusia menjadi begitu pendek dengan ingatan yang semakin berkurang mendorong inkarnasi Tuhan Yang Maha Esa dalam bidang sastra, Maha Rsi Vyasa yang merupakan putra dari Parasara Muni sekitar 5000 tahun yang lalu akhirnya melakukan kodifikasi pengetahuan Veda dan menuliskannya dalam sejumlah kitab termasuk juga menyusun kitab-kitab tambahan di luar Catur Veda dengan menggunakan Bahasa umum yang dipakai saat itu, yaitu Bahasa Sansekerta (penjelasan lebih lanjut mengenai pembagian kitab-kitab suci Veda dalam dibaca pada artikel ini dan beberapa artikel lainnya di web ini). Proses kodifikasi tersebut dikatakan terjadi pedepokan Maha Rsi Vyasa yang berlokasi di sekitar tepi sungai Gangga yang saat ini menjadi bagian wilayah India.

Meski faktanya kitab-kitab Veda memang dikodifikasi dan ditulis di India, namun seperti telah disebutkan dalam sloka di atas, bukan berarti pengetahuan Veda (khususnya Catur Veda) diwahyukan hanya di India. Meski pun tidak dapat dipungkiri bahasanya Bhagavad Gita sebagai Pancama Veda memang diwahyukan di Kuruksetra. Sehingga dengan demikian India bukanlah kiblat utama pengetahuan Veda. Veda mengatakan bahwa pengetahuan Veda adalah pengetahuan ilmiah yang merupakan pengejawantahan hukum alam. Hukum alam sendiri dikatakan merupakan salah satu perwujudan tenaga material dari Tuhan Yang Maha Esa. Jika memang demikian, seharusnya ajaran Veda berlaku universal tanpa memandang tempat, waktu dan juga pengaruh sosial budaya.

Suku Maya dan Inka terletak jauh di belahan bumi yang lain. Jika pemahaman buku sejarah di sekolah-sekolah benar, dan jika 5000 tahun yang lalu kehidupan manusia sangat primitif, maka penyebaran ajaran Veda dari India ke Amerika Selatan sangat lah tidak mungkin. Tetapi faktanya dasar-dasar ajaran yang dianut oleh suku bangsa Inca dan Maya sangat mirip dengan ajaran Veda. Meski tidak seratus persen sama, konsep kepercayaan teologis suku Maya serupa dengan ajaran Veda. Mereka meyakini bahwa setiap makhluk hidup memiliki jiva yang berbeda dari badan ini. Mereka juga percaya konsep reinkarnasi, kekuatan alam sebagai wujud kemahakuasaan Tuhan dan termasuk keyakinan pada adanya dewa-dewa yang merupakan administrator alam material di bawah Tuhan Yang Maha Esa. Meski masih sangat debatable akibat penemuan arkeologi yang tidak utuh, arca yang menyerupai Ganesha juga telah ditemukan di salah satu reruntuhan Piramid peninggalan suku Maya. Bangsa Inca dan Maya juga mengenal istilah Kundalini, suatu kekuatan metafisika yang dapat dibangkitkan dengan sistem yoga yang mereka sebut sebagai “Kultunlilni” dan Yoga sendiri disebut sebagai Yok’hah. Kitab Ayurveda yang merupakan ilmu pengobatan juga diterapkan secara serupa sebagai sistem pengobatan Maya. Lebih jauh lagi, sistem kosmologi bangsa Meso-Amerika tersebut juga sangat mirip dengan yang dijabarkan Veda. Hal yang sama juga dapat diperhatikan pada sistem kepercayaan lokal di belahan dunia lain seperti misalnya agama Shinto di Jepang. Dan tentu saja link yang sangat nyata juga dapat kita lihat pada kepercayaan lokal di Indonesia seperti agama Tirtha di Bali, Kaharingan di Kalimantan, Kejawen di Jawa, Wiwitan di Sunda dan sebagainya. Sehingga tidaklah salah sekitar tahun 70-an kepercayaan-kepercayaan lokal tersebut dapat bergabung di bawah naungan institusi Hindu Dharma.

Pertanyaan selanjutnya adalah, bagaimana kesamaan itu terjadi? Apakah hanya sebuah kebetulan atau memang ada hubungan tertentu? Jika mengikuti alur logika bahwasanya penduduk Amerika asli datang dari daratan Asia melalui selat Bring di dekat kutub utara, maka bisa saja ada yang berargumen bahwa peradaban Veda telah dibawa dari India ke Amerika oleh bangsa-bangsa primitif dalam masa kehidupan nomaden dan dalam rentang waktu yang sangat lama. Tetapi jika anda memang mempercayai apa yang disampaikan dalam sloka-sloka Veda yang mengatakan bahwasanya Veda diturunkan di planet lain dan akhirnya diajarkan di bumi melalui anak cuku keturunan Manu, maka tidaklah mengherankan jika pada awalnya kebudayaan di permukaan bumi sejak awal merupakan kebudayaan Veda. Banyak sloka Veda juga menjabarkan tentang kemajuan teknologi pada masa itu yang sangat luar biasa. Seperti misalnya keberadaan teknologi pesawat Vimana yang dikatakan dapat terbang dengan kecepatan tinggi dan bahkan tidak hanya terbeng di bumi, tetapi juga bisa menjangkau planet-planet lain. Namun jika pun anda tidak dapat meyakinin apa yang disampaikan oleh sloka Veda termasuk kemungkinan adanya teknologi maju di masa lampau, maka masih ada jawaban alternatif lain, yaitu konsep kebenaran alamiah. Sifat dari api adalah panas dan membakar. Tidak peduli api itu ada di sebuah hutan, di tungku masak atau di luar angkasa maka tetap saja api selalu mengeluarkan panas terlepas dari berbagai istilah bahasa yang digunakan. Demikian juga kebenaran ilmiah yang ditemukan oleh para ilmuwan. Hukum gravitasi diungkapkan oleh Newton, konsep kekekalan massa dan energi oleh Einstein, hukum Bernoulli, Archimedes, dan lain-lain tidak hanya berlaku di tempat di mana hukum-hukum tersebut diungkapkan,  tetapi juga berlaku di setiap wilayah lain di Bumi dan bahkan di planet lain. Hukum-hukum tersebut berlaku absolut baik bagi mereka para profesor fisika maupun seorang bocah yang belum mampu baca tulis. Demikian juga ajaran Veda yang universal tidak hanya berlaku bagi mereka yang mempercayainya sebagaimana konsep sejumlah agama-agama abrahamik modern yang mengatakan bahwa keselamatan hanya milik mereka yang percaya. Ajaran Veda berlaku universal bagi semua orang baik yang percaya mau pun yang tidak percaya karena berbasis pada kebenaran alamiah yang berlaku di seluruh alam semesta. Oleh karena itu, vibrasi pengetahuan Veda dapat ditangkap oleh semua orang di belahan bumi dan bahkan planet mana pun. Dengan kata lain, suku terasing nan jauh di pedalaman sana juga masih dapat memahami pengetahuan Veda tanpa harus ada perantara yang datang ke sana untuk mengajarkannya. Sehingga dengan demikian, tidak perlu heran jika terdapat sangat banyak kesamaan konsep keyakinan antara penganut Veda di India dibandingkan dengan kepercayaan lokal di berbagai belahan dunia lain yang bahkan belum ditemukan memiliki link apa pun.

Pengikut Veda, apakah sudah pasti beragama Hindu?

Penjabaran mengenai pewahyuan Veda sangat erat kaitannya dengan jawaban dari pertanyaan ini. Diakui atau tidak, memang benar bahwasanya tidak dapat ditemukan kata Hindu dalam sloka-sloka Veda. Kata Hindu baru muncul dari para penjajah Muslim bangsa Mogul yang menguasai India sekitar tahun 1500-an Masehi. Kata Hindu muncul untuk menyebutkan para agama penduduk asli yang saat itu ditemukan di sepanjang bantaran sungai Shindu. Sehingga dengan demikian seperti dikatakan oleh Srila Prabhupada pada awal artikel ini, memang benar bahwasanya Hindu adalah istilah baru yang bahkan baru dikenal setelah masuknya Islam ke India. Padahal faktanya ajaran Veda merupakan ajaran purba dan diakui sejarah sebagai agama tertua yang bahkan asal muasalnya belum diketahui oleh ahli sejarah modern.

Veda sendiri hanya menyebutkan ajarannya tersebut sebagai Dharma. Di beberapa sloka yang lain juga disebutkan Sanatana Dharma atau Dharma yang abadi. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika istilah Dharma tidak hanya digunakan oleh institusi modern yang menyebut diri sebagai Hindu, tetapi juga oleh para penganut ajaran Dharma yang lain (atau lebih tepatnya sempalan ajaran yang pada dasarnya bersumber dari Veda), seperti misalnya Buddha, Jaina, Carvaka, Sikh, dll. Ajaran Buddha muncul karena ketidaksetujuan Sidharta Gautama dengan banyaknya kaum Brahmana waktu itu melakukan pembenaran penyembelihan binatang dengan dalil korban suci tetapi faktanya hanya untuk pemuasan perut. Agama Sikh muncul pada abad ke-15 sebagai pengingkaran terhadap tradisi di India yang seolah-olah mengikuti sistem keyakinan politeisme dengan memuja banyak dewa dan mengukuhkan sistem keyakinan baru yang tampak lebih monoteisme. Jaina atau Jain Dharma pada dasarnya juga mengikuti prinsip-prinsip dasar Veda tetapi memutuskan untuk muncul dengan nama berbeda. Sehingga dari fakta kecil ini, kita dapat mengerti bahwa pengikut Veda telah dipaksa terpecah belah menjadi sejumlah kelompok agama dengan nama baru yang bahkan baru lahir sekitar abad ke-15.

Sehingga dengan demikian, jawaban sederhana dari petanyaan ini tentu saja tidak. Pengikut Veda telah terpecah menjadi sejumlah kelompok agama sebagaimana dijabarkan di atas. Sebagian lainnya sebagaimana banyak terjadi di Eropa dan Amerika masuk sebagai kelompok Agnostik, mereka yang menjalankan ajaran-ajaran Veda seperti meditasi dan yoga tetapi menolak untuk dimasukkan ke dalam institusi agama manapun. Demikian juga halnya halnya dengan kepercayaan lokal di belahan dunia lain yang katakanlah tidak punya link apa pun dengan Hindu modern tetapi memiliki sistem kepercayaan yang sama karena sama-sama bersumber pada vibrasi alam tidak akan menyebut kelompok mereka sebagai pengikut Veda, apa lagi Hindu. Namun harus diakui mereka juga mempraktikkan ajaran yang sama.

Adakah kata Hindu dalam peninggalan arkeologi Kerajaan Majapahit, Sriwijaya dan kerajaan-kerajaan kuno nusantara lainnya?

Berakhirnya masa-masa kerajaan kuno di Nusantara yang bercorak ajaran Veda kurang lebih juga terjadi sekitar abad ke-15 sesaat setelah India ditaklukkan oleh Islam. Sejalan dengan nasib India, Nusantara pun akhirnya berubah dari corak kerajaan yang mengikuti ajaran Veda menjadi kerajaan-kerajaan bercorak Islam.

Jika benar nama Hindu baru muncul pertama kalinya di India pada abad ke-15, maka logikanya meski Nusantara juga menerapkan ajaran-ajaran Veda, maka juga tidak akan ditemukan kata Hindu dalam peninggalan arkeologi kerajaan-kerajaan pra-Islam di Nusantara. Dan memang benar bukan? Adakah kata Hindu dalam peninggalan prasasti-prasasti kerajaan Majapahit? Blambangan? Dan termasuk kerajaan penganut Veda terakhir di Bali? Sama sekali tidak. Prasasti-prasasti yang ada hanya mengungkapkan pemujaan pada Visnu, Durga, Ganesha, Bhairava dll. Ditemukan juga berbagai jenis kakawin seperti Hariwangsa, Sutasoma, dll. Termasuk diantaranya ilmu pengobatan, perbintangan dan tata upacara yang memang memiliki link dengan ajaran Veda. Tetapi sekali lagi tidak ada kata-kata Hindu di dalamnya.

Tidak adanya kata Hindu dalam peninggalan sejarah nusantara juga menimbulkan kebingungan bagi para penganut Veda nusantara pasca kemerdekaan Indonesia. Saat itu agama di Bali masih dikenal sebagai agama Tirtha dan dianggap hanya aliran kepercayaan yang tidak layak diakui sebagai agama menurut standar yang berlaku bagi penganut agama-agama Abrahamik. Atas arahan dari seorang kedubes India pada waktu itu yang menyadari bahwa keyakinan yang ada di Indonesia dan di Bali khususnya sangat mirip dengan yang ada di India. Hal tersebut jualah yang mendorong sejumlah cendekiawan muda Bali dikirim belajar ke Shantiniketan Vishva Bharaty University, Banaras Hindu University, dan International Academy of Indian Culture. Perjuangan Panjang para cendekiawan tersebut untuk dapat diakui sebagai agama resmi yang terpisah dari Islam dan Kristen akhirnya memunculkan istilah Hindu Bali. Istilah Hindu Bali pertama-tama digunakan karena mereka melihat Bali unik dan berbeda dari Hindu di India. Namun demikian segera setelah itu istilah Hindu Bali direvisi menjadi Hindu Dharma mengingat ternyata keyakinan lokal yang ada di banyak daerah di Indonesia juga memiliki kemiripan sehingga mereka juga dapat bernaung di bawah suatu organisasi agama yang sama.

Sehingga dengan demikian sangat jelas bahwa Hindu adalah “New Brand” dari Sanatana Dharma, ajaran Veda yang juga pada dasarnya membawahi banyak pecahan-pecahan kelompok agama yang lainnya di dunia.

Krishna bukan Hindu?

Kembali ke pernyataan Srila Prabhupada di awal artikel ini, apakah Krishna adalah Hindu atau bukan? Secara singkat tentu saja harus diakui bahwa Krishna bukan Hindu mengingat institusi Hindu baru muncul setelah abad ke-15. Lebih spesifik lagi, ajaran Hare Krishna yang merupakan garis perguruan Brahma Gaudya Vasinava sampradaya sudah ada jauh sebelum dikenalnya kata Hindu. Jika dirunut secara parampara bahkan dikatakan ajaran Hare Krishna bersumber dari slah satu dari 4 parampara pokok sebagaimana disebutkan dalam Srimad-Bhagavatam 6.3.21. (lebih lanjut mengenai parampara dapat dibaca di link ini). Sehingga dengan merunut pada fakta sejarah ini, maka tentu saja Hare Krishna bukanlah Hindu dalam arti istilah yang mengkerdilkan istilah Sanatana Dharma yang lebih luas. Oleh karena itu di negara-negara sekuler di mana negara tidak mencampuri urusan agama penduduknya dan kelompok agama bukanlah hal yang penting, maka pengikut Hare Krishna tidak pernah dipusingkan dengan identitas agama.

Namun demikian, di sisi lain jawabannya juga akan menjadi ya untuk negara-negara yang dikatakan beragama seperti Indonesia yang meletakkan kelompok agama dalam posisi yang penting dan wajib mencantumkan kolom agama di kartu identitas kependudukannya. Meski pengikut Veda harusnya ditulis sebagai Dharma atau Sanatana Dharma, namun harus diakui dalam nomenklatur agama-agama modern istilah itu tidak dikenal. Di Indonesia bahkan hanya dikenal 6 agama dengan dua diantaranya, Hindu dan Buddha adalah wujud mini dari Dharma yang memang sangat diversity dalam sebuah unity sebagaimana dapat diperhatikan dalam bagan ajaran Veda di link ini. Jika demikian adanya, lalu pengikut Hare Krishna harus masuk ke kelompok yang mana? Tentu saja pilihan yang paling masuk akal adalah ada di bawah Hindu mengingat konsepsi teologi Hindu modern jauh lebih match jika dibandingkan dengan konsepsi Buddha yang lebih condong pada Nastika, atau mengingkari konsep Tuhan yang berwujud pribadi.

Translate »
%d bloggers like this: