Hindu Dharma seharusnya jauh lebih besar jika Balinisasi tidak pernah terjadi.

Memang benar bahwasanya jasa tetua jaman dulu yg dimulai dari Bali sangat luar biasa dalam memperjuangkan agar ajaran Dharma dapat diakui sebagai sebuah institusi agama yg sejajar dg Islam dan Kristen. Hanya saja titik kemundurannya terjadi saat orang2 Bali berusaha mendominasi dg menstandarkan Dharma dg adat istiadatnya dg balisinasi jawa, sunda, kaharingan, batak karo, dll.

Harus diakui “Hindu” adalah agama baru… a new branding dari Sanatana Dharma. Kata Hindu baru dikenal sekitar abad ke-15. Bahkan disinyalir nama itu dimulai dari penjajah Mogul beragama Islam yg menguasai India waktu itu. Nama Hindu selanjutnya dipopulerkan lagi oleh para akademisi eropa.

Jika kata Hindu baru muncul pada abad ke-15 di India, lalu kapan kata Hindu dikenal di Nusantara? Research online kecil-kecilan yg saya lakukan menunjukkan tidak ada satu lontar, prasasti atau artifak apapun dari kerajaan besar Majapahit, Sriwijaya dan bahkan kerajaan2 yg lebih muda di Bali yg mencantumkan kata Hindu.

Ajaran Veda pada dasarnya dijadikan fondasi ajaran banyak “agama baru” seperti misalnya Buddha, Jain dharma (Jaina), Sikh, Carvaka, dll… dahulu kala mereka ada dalam satu payung dan menyebut diri sebagai pengikut Dharma… tuntutan perubahan yg berkiblat pada konsep agama menurut ajaran Abrahamik mengubah semuanya… membuat dharma bercerai berai menjadi sejumlah institusi…

Di Indonesia? Apakah pengikut dharma yg telah di-“frame” dalam institusi Hindu mau dikerdilkan lagi dengan balinisasi? Jangan sampai….

“Unity in Diversity” ajaran dharma sudah menjadi identitas sejak jaman purba. Karena itu tidak salah jika di Nusantara kekawin sutasoma juga menyebutkan “bhinneka tunggal ika” suatu kesatuan dalam perbedaan… ini lah identitas kita yg harus kita jaga… pengikut dharma sudah mengecil karena terpecah menjadi sejumlah agama. Jangan kecilkan lagi Hindu dharma dg mengkerdilkannya dg balinisasi…

Translate »
%d bloggers like this: