Pada beberapa kesempatan diskusi dengan beberapa sahabat “Bali Ortodok”, sangat sering saya temukan pernyataan dan pertanyaan yang sangat menggelitik yang harus segera disikapi oleh mereka yang mengatakan dirinya sebagai bhakta Tuhan. Setelah secara cukup panjang lebar saya menjelaskan berbagai macam konsep-konsep tattva, susila dan upacara yang bersumber dari Veda dan akhirnya menemukan kesimpulan akhir pada Bhagavad Gita sloka 15.15, yang mengatakan; “vedai ca sarvair aham eva vedyo vedanta-krd veda-vid eva caham, Akulah yang harus diketahui dari segala Veda; memang Akulah yang menyusun Vedanta, dan Akulah yang mengetahui Veda”. Sehingga dari sloka ini, semua orang Hindu yang mengakui Bhagavad Gita sebagai kitab sucinya pada akhirnya harus mengakui bahwa Sri Krishna yang menyabdakan Bhagavad Gita adalah Bhagavan, Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa sendiri. Lalu apa yang dikatakan oleh mereka yang masih menolak atau ragu-ragu dengan sloka ini? Mereka akhirnya bertanya; “Apakah anda penyembah Sri Krishna? Apakah dengan menjadi penyembah Krishna harus melepaskan atribut budaya setempat seperti yang banyak dilakukan penyembah Krishna di Bali? Apakah ujung-ujungnya mereka harus menghancurkan pura keluarga? Apakah penyembah Krishna tidak boleh ke Pura?” dan berbagai pertanyaan lainnya yang intinya adalah “ketakutan” akan hilangnya wajah Bali yang mereka lihat saat ini.

Sebagian yang mereka kawatirkan ada nilai benarnya juga. Kejadian di lapangan sudah memperlihatkan sebagian oknum sampradaya, baik dari kalangan Vaisnava, Sivaisme atau yang lainnya memperlihatkan sikap eksklusif, mulai tampil ekslusif, tidak pernah bergaul ke pura dan bahkan beberapa diantaranya menghancurkan pura-nya sendiri. Semua ini menghantui mereka yang teguh dalam semangat Hindu berbudaya lokal namun bosan dengan rutinitas upacara yang memberatkan dan ingin mencari wajah Hindu yang berbeda yang berdasarkan pada sastra Veda.

Benarkah tindakan mereka yang mengaku sebagai bhakta Sri Krishna, namun memposisikan dirinya sebagai superior dan eksklusif?

Prinsip dasar yang harus dimiliki oleh seorang bhakta Sri Krishna sebagaimana disampaikan dalam Sri Shikshashtaka adalah rasa tunduk hati, memposisikan diri bahkan lebih rendah dari pada rumput di jalanan, lebih toleransi dari pada sebatang pohon, bebas dari segala rasa bangga yang palsu dan bersedia memberi segala hormat kepada orang lain. Namun jika anda melihat seseorang yang mengaku sebagai bhakta Sri Krishna, tetapi memiliki egoisme tinggi, superior dan tidak memperlihatkan tunduk hati, maka sejatinya dia bukanlah seorang bhakta yang bona fide. Sri Krishna sendiri menegaskan kepada Arjuna dalam dalam Adi Purana (sebagaimana dikutip dalam Laghu Bhagavatamrta 2.4 dan CC Madhya-Lila 11.31), “Ye me bhakta janah partha na me bhaktas ca te janah, wahai Partha, orang yang berkata dirinya adalah bhakta-Ku, sesungguhnya bukan bhakta-Ku. Mad bhaktanam ca ye bhakta te me bhaktata mamatah, tetapi orang yang berkata bahwa dirinya adalah bhakta dari bhakta-Ku, dia lah bhakta-Ku yang sebenarnya”. Jadi orang yang dengan angkuh dan sombongnya mengatakan dirinya sebagai bhakta Sri Krishna tidak ubahnya seperti seorang anak yang baru belajar silat, mencak-mencak kesana-kemari nantang berkelahi, padahal ilmunya belumlah seberapa.

Lalu bagaimana dengan pergi ke Pura? Bagaimana dengan tindakan menghancurkan pura dan tidak mau bersosialisasi dan sembahyang ke Pura lagi?

Dalam Padma Purana dan Siva Purana (sebagaimana dikutip dalam Laghu Bhagavatamrta 2.4 dan CC Madhya-Lélä 11.31) disebutkan bahwa Parvati bertanya kepada suaminya dewa Siva, “Dari segala macam persembahyangan, persembahyangan kepada siapakah yang paling sempurna? Dan siapakah kepribadian tertinggi yang paling pantas dipuja?” Siva menjawab, “Aradhananam sarvesam visnor aradhanam param, dari segala macam persembahyangan, persembahyangan kepada Visnu adalah yang paling tinggi tingkatannya. Tasmat parataram devi tadiyanam samarcanam, tetapi O dewi, ada lagi persembahyangan yang lebih utama dari ini yaitu memuja para penyembah (bhakta) Visnu”. Lalu siapa bhakta Visnu? Dalam Padma-Purana sebagaimana dikutip dalam CC Adi-lila 3.91 ditegaskan bahwa para dewa pada dasarnya adalah bhakta Sri Visnu, “visnu bhakta smrta daiva”. Sedangkan dalam Sri Gurvastaka sloka 7 disebutkan “sakshad-dharitvena samasta-shastrair uktas tatha bhavyata eva sadbhih kintu prabhor yah priya eva tasya vande guroh shri-charanaravindam, Seorang guru kerohanian harus dihormati sama seperti Tuhan Sri Krishna sendiri. Karena ia adalah pelayan yang paling rahasia dari Tuhan. Hal ini diakui oleh semua kitab-kitab suci yang diwahyukan dan oleh para pihak-pihak yang memiliki otoritas dalam kerohanian. Karena itu hamba menghaturkan sembah sujud dengan hormat kepada kaki padma para guru-guru kerohanian, yang merupakan perwakilan bona fide dari Tuhan Sri Krishna”. Jadi dari kedua sumber ini setidaknya ada dua entitas yang harus kita hormati dan layani sebagai syarat dari pemujaan kepada penyembah-Nya, yaitu para dewa dan guru-guru kerohanian yang bona fide. Lalu bagaimana kaitannya dengan pergi ke Pura? Pada kenyataannya ada beberapa Pura yang ditujukan untuk pemujaan kepada para dewa tertentu atau kepada leluhur tertentu. Dengan demikian, apakah haram hukumnya bagi seorang penyembah Sri Krishna untuk masuk dan sembahyang ke pura tersebut? Jika mengacu kepada sumber-sumber yang sudah saya kutipkan sebelumnya, maka mereka yang mengharamkan untuk masuk ke Pura adalah oknum orang bodoh yang mengaku sebagai penyembah/bhakta Sri Krishna. Mereka tidak sadar pada posisi mereka sebagai “dasa anu dasa, pelayan dari pelan”. Mereka tidak sadar bahwa para dewa dan/atau guru-guru suci / leluhur yang distanakan di sana juga adalah pelayan Sri Krishna yang patut kita hormati. Kita sama sekali tidak ada apa-apanya dibadingkan dengan mereka yang mampu mengemban tugas Sri Krishna dalam hal-hal material. Jangankan mengemban tugas yang serupa dengan para dewa, mengemban tugas yang diberikan oleh guru kerohanian kita saja kita sering kali alpa, lalu apa yang kita banggakan sehingga menolak masuk ke pura dan sujud kepada para dewa?

Dalam Bhagavata Purana 11.17.21 disebut kualifikasi-kualifikasi yang harus dimiliki oleh seorang penyembah Tuhan, yaitu antara lain; tidak melakukan tindak kekerasan (ahimsa), berpegang teguh pada kejujuran (satyam), tidak mencuri dan korupsi (asteyam), selalu berbuat untuk kesejahteraan semua makhluk lain (bhuta priya hitehaca), dan membebaskan diri dari nafsu, kemarahan dan keserakahan (akama krodha lobhasa). Sehingga seorang bhakta yang datang bersosialisasi ke lingkungan pura dan masyarakat sudah memperlihatkan sikap bhuta priya hitehaca dan akama krodha lobhasa-nya. Melalui pergaulan sosial tersebut, mereka yang lebih terdidik dalam lingkungan filosofi seharusnya bisa menularkan pengetahuan mereka kepada masyarakat luas, mencoba secara bertahap memperkaya masyarakat yang mungkin masih berkutat pada tataran upacara (yajna) ke dalam suatu tingkat dimana masyarakat umum bisa merasakan manisnya rasa bhakti yang tumbuh dari keseimbangan antara tattva (filsafat), susila (disiplin tingkah laku) dan ritual (yajna).

Sementara anda yang merasa sebagai Bali Ortodok, yang tidak ingin kehilangan identitas Bali anda, tetapi ingin merasakan filsafat Veda yang berdasarkan parampara tidak perlu kawatir bahwa dengan anda menjadi pemuja Krishna budaya Bali akan hancur dan dilupakan. Tidak ada satu sastrapun yang melarang anda memuja Sri Krishna di Pura, Merajan / Sanggah. Tidak ada sastra yang akan menyalahkan anda jika anda bersembahyang dengan pakaian adat Bali dan tidak ada yang menyalahkan anda jika anda tetap melantunkan pupuh, geguritan dan berbagai macam seni budaya Bali setelah anda menjadi bhakta Sri Krishna. Yang terpenting dari semua itu adalah “spirit” yang menjiwai apa yang anda lakukan. Anda bersembahyang ke Pura dengan mengetahui bahwa Sri Krishna adalah Tuhan. Anda sujud hormat kepada para dewa dengan menyadari bahwa anda sedang melakukan pemujaan yang utama dengan melayani bhakta dari Sri Krishna. Dan yang tidak kalah pentingnya, semua etika bermasyarakat (susila) dan yajnya yang anda lakukan benar-benar didasari oleh Veda, bukan karena perkembangan jaman dan “gugon tuwon” (hanya mengikuti apa kata orang-orang sebelum anda).

Jadi tidak ada alasan bagi seorang penyembah Sri Krishna untuk menganggap pura sebagai tempat yang harus dijauhi, apa lagi di hancurkan. Dengan demikian tidak ada alasan bagi orang Hindu Bali Ortodok untuk takut pada Sampradaya Gaudya Vaisnava yang menekankan pemujaan kepada Sri Krishna. Mereka tidak perlu takut dengan hilangnya budaya Bali dan tergantikan oleh budaya yang keindia-indiaan. Bahkan seharusnya dengan adanya sampradaya Veda yang otentik, “jiwa” dari pulau Dewata yang kini telah mulai pudar termakan budaya Barat dan Timur Tengah pasti bisa dibangkitkan kembali. Kita tidak punya pilihan lain selain mengembalikan “spirit” Bali melalui ajaran Veda yang otentik, atau membiarkan Bali merana karena orang Bali yang sudah jenuh dengan upacara tanpa spirit filosofi Veda memilih untuk hengkang memeluk agama lain yang menurut mereka lebih simpel.

Mari bangkit saudara-saudara Bali-ku. Mari lihat Bali secara utuh dari luar Bali dan anda akan merasakan bahwa ternyata anda yang selama ini berada di Bali sudah sekian lama terlena dan tertidur melakukan tindakan bunuh diri terhadap budaya Bali yang anda cintai itu.

Translate »
%d bloggers like this: