Jalan Panjang Mempertahankan Ekseistensi Hindu

Sudah merupakan pengetahuan umum bagaimana perjuangan Panjang pulau Bali khususnya dalam mempertahankan tradisi dan adat istiadat leluhurnya. Pasca runtuhnya Majapahit dari Islam yang disamarkan dengan istilah “runtuh karena dikerubuti semut”, para punggawa, prajurit dan seluruh rakyat yang tidak mau tunduk dan memeluk Islam melarikan diri ke berbagai daerah terpencil termasuk di antaranya ke Gunung Kidul, Gunung Bromo, Banyuwangi dan sebagian besar diantaranya menuju Bali. Bali menjadi pilihan utama karena sejumlah kerajaan Hindu yang masih memiliki kekerabatan erat dengan keluarga kerajaan Majapahit masih berdiri kokoh di pulau tersebut.

Meski pulau Bali dipisahkan lautan dan relative lebih aman dari gempuran, namun bukan berarti telah berada pada posisi aman. Pulau Bali tidak hentinya mendapat serangan bertubi-tubi baik dari sisi Barat, Timur dan Utara. Pasang surut perluasan kekuasaan akibat pertempuran yang tiada hentinya dengan kerajaan-kerajaan Islam di wilayah Jawa Timur dan Lombok merupakan salah satu bukti sejarah kegigihan tersebut. Pasca masuknya Belanda melalui VOC sekitar tahun 1846, pertempuran antara kerajaan beda basis agama tersebut mulai berkurang akan tetapi usaha mempertahankan eksistensi Hindu di Bali menjadi semakin berat dengan masuknya para misionaris Kristen yang melakukan konversi agama dengan pendekatan berbeda. Untungnya sejumlah warga negara Belanda seperti misalnya kepala departemen arkeologi Batavia F.D.K. Bosch dan stafnya R. Goris yang menyadari keunikan adat istiadat Bali dan kekhawatiran kehancuran budaya akibat ulah misionaris memberikan simpatinya sehingga menggoalkan kebijakan pelarangan kristenisasi yang dimulai sekitar tahun 1933.

Pasca kemerdekaan, usaha mempertahankan eksistensi Hindu Bali juga tidaklah mudah. Meski Soekarno sang proklamator kemerdekaan terlahir dari seorang ibu berdarah Bali asli, namun faktanya pengakuan Hindu sebagai salah satu agama resmi di Indonesia juga tidak berlangsung mulus. Hal tersebut terutama pada saat tokoh Nahdlatul Ulama (NU) Wahid Hasyim menjabat Menteri Agama dan membangun pemisah tegas antara agama dan aliran kepercayaan. Peraturan Menteri Agama 9/1952 Bab VI, aliran kepercayaan diartikan “suatu faham dogmatis, terjalin dengan adat istiadat hidup dari berbagai macam suku bangsa. Sedangkan Agama didefinisikan seturut garis pemahaman Judaeo-Kristiani-Muslim yang monoteistik. Dengan kata lain, jika Hindu saat itu ingin diakui sebagai sebuah agama maka harus memiliki nabi dan kitab suci. Untungnya setelah perjuangan Panjang banyak pihak melalui sejumlah petisi, pada tahun 1959 seksi Hindu Bali untuk pertama kalinya dapat dibentuk di kementerian agama dan kemudian berubah menjadi Parisada Hindu Dharma pada tahun 1963. Menyadari banyak orang-orang di Jawa Tengah, Jawa Timurm Bugis, Karo, Ngaju dan lain sebaginya juga merasa memiliki kesamaan keyakinan dengan orang Bali, pada akhirnya Parisada Hindu Bali dirubah menjadi Parisada Hindu Dharma Indonesia sekitar tahun 1986.

Kekuatan Hindu di Bali yang mampu membangkitkan kembali kehinduan di wilayah nusantara merupakan mimpi buruk bagi musuh lamanya terlebih dengan munculnya ramalan kutukan Jayabaya mengenai akan kembalinya ajaran Hindu setelah 500 tahun penanggalan kuno saka. Salah satu cara untuk melenyapkan kemungkinan bangkitnya Hindu tidak lain adalah dengan melenyapkan eksistensi Hindu di Bali. Banyak usaha yang telah ditempuh dalam usaha tersebut, seperti misalnya penguasaan media penyiaran dan Pendidikan. Penggunaan undang-undang penistaan agama yang hanya tajam ke satu sisi serta munculnya “cyber army” atau buzzer yang menyebarkan informasi yang telah direkayasa guna mempengaruhi masyarakat yang sudah mulai kecanduan media social.

Topik lama yang kembali hangat

Cyber army yang membanjiri ranah maya saat ini tidak hanya didominasi oleh instansi pemerintah, melainkan juga telah dipenuhi oleh partai politik, ormas dan bahkan beberapa diantaranya merupakan orang bayaran. Cyber army memiliki tugas yang beragam mulai dari spionase sampai pada asymetric champing termasuk dinataranya yang sangat aktif melakukan social engineering terhadap masyarakat Bali sebagaimana dengan mudah dapat ditemukan di group-group terbuka di media social. Salah satu topik lama yang kembali hangat adalah mengenai ramalan kemunculan Muhammad dalam kitab Veda. Narasi yang dikembangkan oleh para buzzer tersebut adalah bahwasanya Muhammad dalah perwujudan Kalki Avatara. Kali Avatara sendiri merupakan salah satu dari sekian banyak Avarata atau penjelmaan Tuhan khususnya yang diyakinan akan turun di akhir Kali Yuga. Dengan menyamakan Muhammad sebagai Kalki Avatara kaum buzzer tantara agama tersebut ingin menggiring opini bahwa kitab suci Veda sendiri membenarkan keberadaan Muhammad sebagai seorang nabi yang membawa agama termuktahir yaitu Islam. Sehingga dengan demikian mereka berharap bahwa seluruh pengikut Veda sudah seyogyanya menjadi pengikut Muhammad sebagai Avatara pada akhir kali Yuga.

Celakanya, harus diakui bahwa sebagian besar umat Hindu sangat buta akan kitab sucinya. Jangankan membaca kitab suci Veda, melihat bagaimana wujud dari kitab Veda saja sepertinya merupakan hal mahal. Disamping karena kitab Veda sendiri sangat-sangat tebal dengan jutaan sloka sehingga tidak dapat ditenteng hanya dalam satu buku seperti halnya Quran dan Injil, proses transfer ajaran Hindu yang didominasi oleh tradisi juga merupakan salah satu penyebabnya. Sebagian besar umat Hindu sudah cukup puas dengan pengetahuan kehinduannya hanya dari symbol-simbol upacara keagamaan atau melalui media kesenian. Hanya segelintir umat Hindu yang umumnya didominasi oleh para pemimpin agama itu pun yang sudah memasuki tahapan hidup sannyasi yang mulai aktif membaca kitab suci. Meski pun rajin baca kitab suci belum tentu juga bisa mengetahui semuanya mengingat banyaknya jumlah kitab-kitab Veda. Sehingga tidaklah mengherankan jika sebagian besar umat Hindu akan kebingungan jika ditanya mengenai isi kitab Veda. Hal tersebut memberi celah lebar bagi para buzzer untuk melakukan pembodohan dan bahkan penyimpangan tafsir atau kutipan keliru sloka-sloka Veda.

Rendahnya kualitas Pendidikan agama Hindu mulai dari tingkat keluarga, sekolah formal dan juga desa pakraman berdampak pada tingkat militansi yang rendah. Sehingga cukup banyak diantaranya setelah merantau dan belajar kitab suci lain merasa tercerahkan dan akhirnya meninggalkan Hindu. Celakanya, mereka-mereka yang sebenarnya tidak pernah baca kitab Veda ini lah yang pada akhirnya dijadikan pion-pion utama guna megoyahkan keyakinan umat Hindu dengan menyampaikan testimoni-testimoni keliru. Sebut saja salah satunya muncul dari video Dewa Putu Sutisna. Menurut informasi tetangganya, pak Dwa Putu Sutisna menikah dengan wanita muslim dan kita menjadi Islam yang taat. Terlepas dari berita negative mengenai pribadinya yang juga tersebar di dunia maya, namun sejalan dengan maksud dari artikel ini adalah bahwasanya beliau mengeluarkan testimoni mengenai kesaksian bahwa Muhammad telah diramalkan dalam Veda sebagai Kalki Avatara yang menyebabkan beliau semakin yakin memeluk Islam. Pertanyaannya, benarkah narasi yang dibangun dalam testimonial beliau tersebut?

Muhammad adalah Kalki Avatara?

Sebelum membahas mengenai ramalan Muhammad dalam kitab suci Veda, pertama-tama ada baiknya kita memahami bahwa upaya pendistorsian Hindu sudah berlangsung sejak lama. Usaha pendistorsian terbesar muncul dari para misionaris Kristen di India yang berusaha menterjemahkan kitab-kitab Veda ke dalam Bahasa Inggris seperti misalnya yang dilakukan oleh Max Muller. Sayangnya usaha penerjemahan tersebut dilakukan bukan sebagaimana mestinya, tetapi juga dibumbui dengan upaya-upaya pendistorsian makna dan bahkan mungkin sejumlah sloka. Permasalahan selanjutnya adalah kitab-kitab terjemahan tersebutlah yang lebih mendominasi perpustakaan-perpustakaan Barat karena lebih mudah diakses dalam bentuk Bahasa Inggris.

Bhavisya Purana merupakan kitab yang paling menarik bagi sebagian besar orang termasuk para kaum misionaris dan kaum dakwah. Bhavisya purana merupakan salah satu dari 18 Purana utama dalam khasanah kitab-kitab Veda. Bhavisya berarti “masa depan” dan Purana berarti “kisah atau sejarah atau legenda”. Sehingga secara literistik Bhavisya Purana dapat dipahami sebagai kitab yang memiliki kisah-kisah mengenai legenda masa depan, atau dengan kata lain mengandung ramalan-ramalan. Ramalan-ramalan masa depan yang diungkap oleh kitab ini memang sangat menarik karena banyak juga membahas mengenai kemunculan agama-agama lainnya. Tidak hanya ramalan tentang kemunculan sang Buddha, kehadiran Sankaracharya atau agama-agama Timur yang serumpun, tetapi juga menyinggung mengenai kemunculan Yesus dan ajaran Islam.

Dari sekian versi Bhavisya Purana yang beredar, kajian akademis mengatakan bahwa terdapat sejumlah upaya revisi atau perubahan-perubahan yang telah dilakukan di sejumlah bagian. Apa lagi kalau membandingkan versi terjemahan misionaris dengan sejumlah kitab yang ditemukan di kalangan masyarakat Hindu di India. Sayangnya, kitab Bhavisya Purana dalam bentuk buku yang yang paling banyak beredar saat ini berasal dari era penjajahan Inggris atau dengan kata lain merupakan hasil terjemahan dari para kaum misionaris. Kitab Bhavisya Purana dari perguruan Hindu sendiri sulit diakses sehingga menyebabkan originalitas sloka-sloka yang beredar dengan mengutip kitab ini sangat debatable tidak terkecuali sloka mengenai ramalan kemunculan Yesus dan Muhammad.

Terlepas dari keabsahan sloka-sloka Bhavisya Purana, mari kita recall kembali apakah benar Muhammad adalah perwujudan Kalki Avatara? Sebenarnya artikel mengenai ini sudah dibahas secara Panjang lebar di sini. Yang pada intinya tidak benar bahwa Muhammad adalah Kalki Avatara karena beberapa alasan. Alasan pertama, penjelasan mengenai Kalki avatara tervalidasi oleh banyak kitab-kitab Veda yang lain dan dinyatakan sebagai perwujudan Tuhan langsung di akhir Kali Yuga. Seperti misalnya dalam Bhagavata Purana 12.2.18 dikatakan “śambhala-grāma-mukhyasya brāhmaṇasya mahātmanaḥ bhavane viṣṇuyaśasaḥ kalkiḥ prādurbhaviṣyati, Kali Avatara akan muncul di rumah seorang brahmana yang agung bernama Visnuyasa di desa Sambhala”. Pada Bhagavata 12.2.23 dikatakan “yadāvatīrṇo bhagavān kalkir dharma-patir hariḥ kṛtaṁ bhaviṣyati tadā prajā-sūtiś ca sāttvikī, Ketika Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa muncul sebagai Kalki, pemelihara Dharma, Satya Yuga akan dimulai dan masyarakat manusia akan melahirkan keturunan dalam sifat kebaikan”. Muhammad sebagaimana keyakinan umat muslim adalah seorang manusia, bukan Tuhan. Kali Yuga berlangsung selama 432.000 tahun dan pada saat kelahiran Muhammad baru berlangsung sekitar 3500 tahun. Sehingga dengan fakta-fakta ini pernyataan yang menyatakan bahwa Muhammad adalah Kali Avatara sudah terbantahkan.

Mahamada adalah Muhammad?

Meski pun demikian, fakta menariknya adalah Bhavisya Purana yang kontroversial juga menyebut nama Mahamada dalam sejumlah slokanya. Pada Bhavisya Purana Parva 3, Kanda 3 Adyaya 3 Sloka 5-27 dengan kutipan sebagai berikut:

mahamadh ithi khayat, shishya-sakha-samniviyath
……. mahadev marusthal nivasinam.
mahadevthe snanya-pya punch-gavua samnivithya

tripurarsur-nashav bahu-maya pravathiney
malech-dharma shav shudhaya sat-chit-anandaya swarupye,
thva ma hei kinkare vidhii sharanaghatham
suta uvacha: ithi shurthiya sthav deva shabadh-mah nupaya tam,
gath-vaya bhojraj-ney mahakhaleshwar-sthale
malech-shu dhushita bhumi-vahika nam-vishritha
arya dharma hi nav-vathra vahike desh-darunya
vamu-vatra maha-mayi yo-sav dagdho myaa pura
tripuro bali-daithyane proshith punaragath
ayoni sa varo math prasava daithyo-vrudhan 
mahamadh ithi khayath , paishacha-kruthi thathpar
nagathvaya thvya bhup paisachae desh-vartake
math prasadhayane bhupal tav shudhii prajayathe

thi shruthva nupshav svadesha-napu maragmath 
mahamadh toi sdhav sindhu-thir mupaye-yav
uchav bhupati premane mahamadh-virshad
tva deva maharaja das-tva magath
mamo-chit sabhu jiya-dhatha tatpashya bho nup
ithi shruthya ththa hata para vismaya-magath

malechdhano mathi-shasi-tatsaya bhupasaya darutho
tucha tva kalidas-sthu rusha praah mahamadham
maya-thei nirmithi dhutharya nush-mohan-hethvei
hanishyami-duravara vahik purusha-dhamum
ityak va sa jidh shrimanava-raja-tathpar
japthya dush-sah-trayach tah-sahansh juhav sa
bhasm mutva sa mayavi malech-dev-tva-magath
maybhithashtu tachya-shyaa desh vahii-kamayuuah
guhitva svaguro-bhasm madaheen tva-magatham
swapiit tav bhu-ghyot-thro-shrumadh-tathpara
madaheen puro jath thosha trith sayam smurthaum

rathri sa dev-roop-shav bahu-maya-virshad
paisacha deha-marathaya bhojraj hi so trivith
arya-dharmo hei to raja-sarvoutham smurth
ishapraya karinayami paishacha dharma darunbhu
linga-chedri shikhaheen shamshu dhaari sa dhushak
yukhalapi sarva bhakshi bhavishyat jano maum
vina kaul cha pashav-thosha bhakshava matha maum
muslanav sanskar kushariv bhavishyat
tasman-musal-vanto hi jathiyo dharma dhushika
ithi pishacha-dharma mya kruth

Dari kutipan sloka di atas, secara singkat dikatakan bahwa Suta Gosvami menceritakan bahwa pada saat kekuasaan raja Shalivahana terdapat 10 raja yang akan segera memasuki planet surga setelah masing-masing memerintah selama sekitar 50 tahun (total 500 tahun lebih) yang setelahnya terjadi kemerosotan moralitas di bumi. Dikisahkan bahwa pada pemerintahan raja terakhir sebelum Shalivahana, yaitu raja Bojaraja dengan dipimpin oleh Jenderal Kalidasa berusaha memperluas kekuasaannya melewati sungai Sindhu [sekarang dikenal sebagai sungai Indus] ke sebelah utara di wilayah gandharas [sekarang Afghanistan], mlecchas [saat ini menjadi wilayah Turki dan wilayah Arab], shakas, Kashmiris [Kashmir dan Pakistan], naravas, dan sathas. Singkat cerita, Raja Bojaraja akhirnya berjumpa Mahamada yang di sloka yang lain disebutkan sebagai perwujudan raksasa Tripura (Tripurasura) sebagai pemimpin mleccha-dharma atau agama mleccha. Selanjutnya di sloka 5-6 dikatakan bahwa Mahamada berkata kepada Raja Bhojaraja sebagai berikut:Oh raja, agamamu tentu saja dikenal sebagai agama terbaik di antara semuanya. Namun, saya akan membangun agama yang mengerikan dan kejam atas perintah Tuhan. Ciri-ciri dari pengikut saya adalah bahwa mereka pertama-tama akan memotong bagian alat kelamin mereka, tidak memiliki shikha, tetapi memiliki janggut, menjadi jahat, membuat suara keras dan memakan segalanya. Mereka harus makan binatang tanpa melakukan ritual apa pun. Ini pendapat saya. Mereka akan melakukan tindakan pembersihan dengan musala atau alu disaat Anda menyucikan barang-barang Anda dengan kusha. Karena itu, mereka akan dikenal sebagai musalman, yang melenceng dari dharma. Dengan demikian agama iblis akan saya dirikan”.

Jika temen-teman umat muslim ingin membenarkan keberadaaan Muhammad dalam kitab-kitab Hindu, sepertinya kutipan sloka di atas jauh lebih masuk akal dari pada menyamakan Muhammad dengan Kalki Avatara bukan? Namun demikian sebagaimana saya sebutkan dalam paragraph sebelumnya, saya tidak berani menjamin bahwa kutipan sloka di atas adalah yang paling sahih dan terbebas dari kepentingan gubahan para misionaris. Sehingga dengan demikian, jika anda benar-benar tertarik pada kebenaran dan tidak hanya mencari pembenaran, mari kita lebih dalami lagi kitab-kitab Veda. Veda adalah ilmu pengetahuan, panduan yang diturunkan Tuhan untuk mengarungi alam semesta material ini. Banggalah menjadi pengikut Veda.

Om Tat Sat

Translate »
%d bloggers like this: